Sri Riyanto

Sri Riyanto

SRI RIYANTO

SRI “DAMEN” RIYANTO

di tulis oleh : Yudi Dodok

Paguyuban Seni Sedap Malam Sragen dipimpin oleh Sri Riyanto, ia satu-satunya lelaki tulen di grup itu. Sri Riyanto asli putra daerah Sragen yang lahir pada tahun 1980. Sebagaimana seniman seni tradisi lainnya ia juga piawai dalam bidang seni tari, karawitan, dan ketoprak. Nama panggilannya Damen, Damen berasal dari kata dami yang mempunyai arti jerami. Jerami adalah tangkai tanaman padi yang telah kering setelah biji padi dipisahkan. Bagi petani, jerami sudah tidak memiliki arti apa-apa. Sebagaimana Sri Riyanto dipandang oleh seniman Sragen tidak memiliki arti apa-apa, terlebih Sri Riyanto dipandang sebagai orang yang omongnya besar. Hal itu yang mengukuhkan panggilan Damen dilekatkan padanya.

Orang tidak mengira kalau Damen itu bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Pergaulannya dengan para waria di Kota Sragen memberikan manfaat yang besar bagi pertumbuhan seni tradisi di Sragen. Sementara oleh para waria Sri Riyanto kemudian dianggap sebagai bapaknya para waria, karena berkat dia banyak para waria di Sragen beralih melakukan aktivitas-aktivitas yang bersifat positif, sehingga citra para waria sedikit demi sedikit menjadi lebih baik di mata masyarakat.
Masa studi Sri Riyanto dari SD sampai SMP ia habiskan di kota kelahirannya. Baru setelah menginjak bangku SMA ia hijrah ke Kota Surakarta untuk mendalami hobi yang telah ia geluti sejak kecil. Ia masuk di SMKI Surakarta Jurusan Tari. Pada tahun 1998 ia lulus dari SMKI, namun baru dua tahun berikutnya ia melanjutkan kuliah di STSI Surakarta juga Jurusan Tari. Padatnya aktivitas pertunjukan yang ia ikuti menjadikan Sri Riyanto hanya dapat menempuh pendidikan di STSI Surakarta selama lima semester. Semangatnya untuk terus belajar mengantarkan Sri Riyanto masuk di Universitas Veteran Sukoharjo mengambil jurusan Bahasa Jawa pada tahun 2006. Gelar S.Pd. (Sarjana Pendidikan) mampu ia raih pada tahun 2010. Selama proses studi di Universitas Veteran Sukoharjo ia juga telah mengajar di SMPN 1 Plupuh mengampu mata pelajaran Seni Budaya dan Bahasa Jawa.

Perkenalannya dengan kesenian berawal dari pergaulan masa kecilnya menonton pentas seni memperingati HUT RI di kampungnya. Selanjutnya pada tahun-tahun berikutnya, ia ikut tampil menari. Ia tampil menari tari jaranan, tarian yang lebih mudah dipelajari oleh anak kecil usia SD. Selain itu ia juga sering diajak oleh bapaknya menonton pergelaran wayang kulit dan ketoprak.
Suatu kali saat melihat resepsi pernikahan tetangganya, Sri Riyanto sangat kagum dengan prosesi cucuk lampah . Prosesi ini cukup langka dan mungkin sudah jarang dilakukan oleh banyak pengantin, apalagi kalau di daerah perkotaan. Namun di wilayah Kabupaten Sragen masih cukup banyak yang melakukan, terutama di daerah pedesaan. Prosesi cucuk lampah menuntut penarinya menguasai banyak tarian Jawa. Cucuk lampah menari dan mengantar pengantin hingga duduk di pelaminan, kemudian ditemani dua anak pembawa kipas. Saat menonton cucuk lampah ketika teman-temannya hanya tertawa Sri Riyanto justru ikut menari menirukan gerakan menari cucuk lampah. Teman-temannya kemudian sontak meloncat kegirangan dan bertepuktangan menyemangati Sri Riyanto. Melihat anaknya menyukai cucuk lampah orangtuanya kemudian memasukkannya ke sanggar untuk belajar menjadi penari cucuk lampah. Setelah belajar cucuk lampah meskipun masih sekolah SD, ia membuka jasa penari cucuk lampah. Hasil dari menjadi penari cucuk lampah tersebut mampu membantu perekonomian keluarganya.

Sejak itu hari demi hari ketrampilan menari Sri Riyanto semakin matang, terlebih setelah ia menempuh Jurusan Tari di SMKI dan STSI Surakarta. Peran menjadi laki-laki dan perempuan sudah ia pelajari sejak bangku SMKI. Melalui tari gagahan dan alusan peran laki-laki dan perempuan itu ia pelajari. Bahkan baginya lebih nyaman membawakan tari alusan (perempuan) daripada tari gagahan (laki-laki). Sampai saat ini pun peran perempuan itu masih sering ia tarikan. Berikut penuturannya, dalam pendidikan formal (yang dia maksud di SMKI dan STSI) seorang laki-laki maupun perempuan wajib untuk bisa menarikan tari perempuan dan tari laki laki tanpa terkecuali.

“Saya dulu sering juga berperan menjadi perempuan istilahnya rodok mbanceni (seperti banci), dari situ saya melihat penonton terhibur dengan karakter saya, sampai sekarang saya terkenal dari situ dan lebih sering mendapat tawaran menarikan perempuan dibanding menarikan laki-laki” (Riyanto, wawancara 28 September 2017).

Maka saat berproses dengan para waria Sri Riyanto tidak banyak mengalami kesusahan. Tanpa kemampuan dan pengalaman itu tentu saja Sri Riyanto akan mengalami kesulitan. Hal itu dikarenakan pelaku komunitas Sedap Malam lahir dan tumbuh besar dari berbagai latar belakang. Mayoritas para pelaku lahir bukanlah dari keluarga penari atau seniman, namun para pelaku hanya mempunyai tekad untuk belajar berkesenian khususnya tari dan ketoprak. Mereka tidak berlatar belakang pendidikan formal seni, mereka hanya tamat belajar rata-rata sampai SD dan SMP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *