SRAWUNG SENI SAKRAL

Srawung Seni Sakral digelar sebagai memeriahkan Sura Bulan Kebudayaan (SBK). Pentas karya seni yang dihadirkan lewat olah tubuh, gerak tari maupun musik pujian. Karya seni yang hadir sebagai bentuk komunikasi vertikal antara manusia dengan Tuhan, dihadirkan lewat olah gerak tari maupun musik pepujian yang mengagungkan kebesaran Sang Pencipta. Dibawakan oleh para seniman dari bebagai daerah sebagai ucapan rasa syukur dan sebagai umbul donga. Peringatan Satu Sura ini pertama kali dilaksanakan pada tahun 2014 di pelataran Museum Radya Pustaka. Diperingatan kemudian disadari bahwa perlu adanya pemindahan acara Srawung Seni Sakral ke tugu titik nol, di depan Balai Kota Surakarta. Pemindahan ini diharapkan sebagai upaya pembersihan atau penyucian satu kota menyambut bulan Sura.

Pada tahun 2019 ini Srawung Seni Sakral memasuki tahun ke-7, acara diawali dengan Wilujengan Mapag Suro yang dilakukan di Tugu Pamadengan (Tugu KM 0 Kota Surakarta) dengan konsep laku Panembahan yang digarap dengan kolaborasi lantunan Mantram Islam Jawa oleh Ki Ronggo Jati dan monolog serta tembang Panembahan oleh Sri Hadi yang intinya warga Surakarta mempersembahkan semua ini kepada Sang Pencipta dan minta kedamaian serta keutuhan Ibu Pertiwi Indonesia.

Bulan Sura dapat dijadikan momen bagi umat manusia untuk mawas diri dan intropeksi terhadap diri kita dengan  banyak melakukan tirakat untuk mencari jati diri manusia sebagai ciptaanNya dan ini dijadikan sebuah tradisi budaya oleh masyarakat Jawa yang dari dulu masih terpelihara dan berjalan sampai sekarang dengan baik.

Umbul Donga Nuswantara yang dilakukan oleh para seniman-seniman Surakarta seperti Sri Hadi, RonggoJati, Wahyu Santoso Prabowo, Daryono, S. Pamardi, ST Wiyono, Agung Kusuma W, Hari Mulyatno, Rusini dan Dorothea Quin. Bulan Suro dalam tradisi budaya Jawa dari dulu sampai sekarang masih terpelihara dan berjalan dengan baik di dalam masyarakatnya terutama Surakarta.

Dalam filosofinya, masyarakat Jawa selalu menginginkan keharmonisan dan keselarasan dalam kehidupan yang berkonsep “Mamahayu Hayuning Bawono” dan selalu menjadi landasan budi pekerti dalam setiap tindakan yang dilakukan manusia di dunia ini. Adapun pengisi acara antara lain tari Laok Bawo dari Kalimantan Timur, Dian Arsa Dance dari Lampung, Dharmacakra Prabha dari Wilis Solo, Totem dari Miroto Yogyakarta, Kelompok santiswaran Madya Laras dari Mojosongo, dan Bedhaya Saptongkara dari I Nyoman Chaya, Bali.

 

 

http://pariwisatasolo.surakarta.go.id/event/srawung-seni-sakral-2019

Unic !!! Srawung Seni Sakral 2019 | Balai Kota Surakarta

Srawung Seni Sakral 2018

https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/37019/srawung-seni-sakral-di-bulan-sura