KOREOGRAFI AKU BISA KARYA JONET SRI KUNCORO

DALAM KETUBUHAN KAUM DIFABEL TUNARUNGU DI SDLB N

DAN SMPLB BINA KARYA INSANI CANGAKAN KARANGANYAR

(RIVA AMELIA 2016), Skripsi Program Studi S-1 Jurusan Seni Tari Fakultas

Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Penelitian dengan judul Koreografi aku Bisa Karya Jonet Sri Kuncoro dalam Ketubuhan Kaum Difabel Tunarungu di SDLB N dan SMPLB Bina Karya Insani Cangakan Karanganyar mengungkap tentang pengalaman ketubuhan kaum difabel tunarungu. Jonet memetakan dan menentukan gerak-gerak tari yang telah ada sebelumnya dan dapat diaplikasikan oleh siswa-siswi tunarungu. Riva mengupas proses kreatif Jonet bersama siswa-siswi tunarungu dengan menggunakan konsep ketubuhan oleh Lono Simatupang sebagai pisau analisis ketubuhan penari. Mengungkap koreografi digunakan teori Sumandiyo Hadi tentang unsur-unsur koroegrafi, sedangkan untuk menganalisis pembentukan motif gerak digunakan konsep effort shape yang dikemukakan oleh Rudolf Van Laban dan solah ebrah yang dimukakan oleh Slamet. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnokoreologi. Tulisan ini diuraikan dari Jonet awal mendapatkan ide kreatif yang dielaborasi dengan pengalaman ketubuhannya, hingga pengorganisasian dam pembentukan gerak. Riva mengklasifikasikan proses pembentukan motif gerak dari Koreografi Aku Bisa, yaitu judul tari, tema tari, deskripsi tari, gerak tari, ruang tari, musik tari, tipe atau jenis tari, mode dan cara penyajian, penari, rias dan kostum.

Dari kesepuluh klasifikasi kemudian dirangkai menjadi relasi gerak yang mampu diekspresikan para siswa tunarungu. Pada hasil akhir, disimpulkan adanya empat motif gerak pada proses pembentukan karya Koreografi Aku Bisa, yaitu gerak maknawi, gerak murni, gerak pindah tempat, dan gerak penguat ekspresi.

Gerak Maknawi adalah gerak yang secara makna bisa diketahui oleh orang melihatnya yang dilakukan secara imitative dan interpretative melalui simbol-simbol maknawi. Pada Koreografi Aku Bisa yang termasuk dalam gerak maknawi adalah gerak robotik, dan gerak mengankat tangan. Gerak Murni adalah gerak yang lebih mengutamakan keindahan dan tidak menyampaikan pesan maknawi serta tidak memiliki maksud untuk menggambarkan sesuatu. Pada koreografi ini yang termasuk ke dalam gerak murni adalah gerak hentakan kaki tangan melenggang, gerak pengembangan mengangkat tangan, gerak bersiap, gerak ayunan dan dragon ball, gerak bunga, gerak manipuren, gerak menapak, gerak tusukan, gerak jungkat-jungkit, gerak putaran tangan ngithing, dan gerak loncatan. Gerak Berpindah Tempat, yaitu gerak yang membuat penari berpindah tempat dari tempat satu ke tempat yang lain. Pada Koreografi Aku Bisa yang termasuk gerak berpindah tempat adalah gerak langkah cepat dan gerak ombakan. Gerak Penguat Ekspresi bisa disebut juga baton signal, pada koreografi ini terletak saat pelantunan puisi. Motif gerak ini merupakan titik awal dari sebuah komposisi tari yang telah mengalami seleksi, evaluasi, dan diperhalus agar dapat menjadi awal dari kekuatan dengan motivasi pada gerak selanjutnya.