Perantau Yang Terkutuk

Perantau Yang Terkutuk

Oleh: Wahyu Novianto

Malin Kundang si lelaki pendurhaka dari tanah Minang itu, selalu menjadi sesuatu yang menakutkan bagi setiap lelaki. Tubuhnya yang membatu dikutuk oleh ibunya sendiri, menjadi narasi yang terus hidup dan mengancam bagi setiap tindakan durhaka. Tidak ada seorangpun yang menyalahkan kutukan itu. Semua orang memihak atas tindakan yang dilakukan oleh sang ibu. Malin pantas mendapat kutukan karena sikapnya yang tidak mengenali ibunya yang renta, saat kapalnya yang mewah dan istrinya yang cantik jelita singgah di pantai yang menjadi tanah kelahirannya.

Di bibir pantai itu, tubuh Malin membatu menerima kutukan, dan tak seorangpun menaruh iba kepadanya. Sepanjang masa ia dikutuk dari mulai cerita-cerita dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar, lagu-lagu pop Minang yang menemani para sopir melintasi kelok-kelok Sumatra, sampai pada karya-karya sastra Indonesia modern.

Sebagai laki-laki Minang, Malin telah merantau menjadi puisi, naskah drama, cerpen, maupun esai. Berbagai tafsir baru telah berhasil dibuatnya. Tidak hanya berhenti pada sastra modern dan folklore nusantara, Malin Kundang terus merantau dalam wujud-wujud yang lain. Perantauan Malin sampai juga di tangan Mahatma Muhammad, sutradara Teater Nan Tumpah dari Sumatera Barat. Mahatma mengadaptasi kisah Malin Kundang menjadi pertunjukan Alam Takambang Jadi Batu pada tanggal 13 Agustus dalam Pekan Teater Nasional 2017, 10-15 Agustus 2017 di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta. Yang diselenggarakan oleh Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. 

Alam Takambang Jadi Batu awalnya adalah sebuah puisi yang ditulis oleh Mahatma, hasil dari resepsinya terhadap legenda Malin Kundang. Puisi ini pula yang kemudian diresepsi kembali menjadi teks pertunjukan dengan judul yang sama. Mahatma melihat bahwa kutukan yang ditimpakan kepada Malin bisa terjadi pada siapa saja. Malin adalah kesadaran akan sikap yang berbeda. Terkutuk dari alam dan lingkungan yang melahirkannya, hingga akhirnya terasing dan dibatukan. Pada konteks inilah kedurhakaan itu terjadi, karena berbeda berarti memberontak. Dan pemberontakan adalah sebuah pendurhakaan.

Bagi masyarakat Minang, alam dijadikan sebagai guru yang mendasari setiap aturan, norma, dan ketentuan-ketentuan adat. Namun, Mahatma melihat bahwa alam yang dijadikan guru itu justru telah membuatnya menjadi batu. Perantauan yang dilakukan oleh laki-laki Minang dalam menghikmai alam telah membuatnya menjadi berbeda. Saat laki-laki itu harus pulang menemui ibu pertiwi (tanah kelahiran), ia tidak lagi mengenali ibu pertiwinya (norma dan adat). Ia menjadi asing dan terasing dengan tanahnya sendiri. Ia dikutuk oleh masyarakatnya. Membatu dalam keterasingannya.

Bagi Mahatma rantau akan selalu menciptakan Malin Kundang-Malin Kundang baru. Mereka pulang dari rantau untuk menjadi batu. Alam yang telah dijelajahinya menjadikan dirinya semakin jauh dari tanah kelahirannya. Ia mencintai tanah kelahirannya tapi tak mau untuk tinggal bersamanya. Ia tetap bertahan di rantau dengan sesekali waktu menginjak tanah yang menjadi ibu pertiwinya.

Apakah setiap zaman akan selalu menciptakan Malin Kundang-Malin Kundang baru?, apakah ibu akan selalu mengutuki anaknya?, apakah ibu yang menjadi tanah kelahiran akan selalu ditinggalkan oleh anak-anaknya?, dan berbagai pertanyaan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sekiranya membayangi Mahatma dalam pertunjukan Alam Takambang Jadi Batu.

Ibu itu bernama Kaba

Pertunjukan Alam Takambang Jadi Batu menghadirkan plot episodik yang terbagi menjadi tiga dengan menampilkan sejarah pembacaan Malin Kundang menjadi kaba lama, kaba baru, dan kaba Mahatma. Pada adegan pertama menghadirkan kabakaba lama berupa teks tradisi Malin Kundang yang tak hanya hadir di Sumatera Barat, namun juga terdapat di daerah-daerah lain di nusantara. Adegan kedua, menghadirkan kabakaba baru berupa kisah Malin Kundang yang ditulis oleh para sastrawan seperti AA. Navis, Goenawan Muhammad, Wisran Hadi, Joko Pinurbo, dan sastrawan lainnya.

Sementara adegan ketiga, menghadirkan hasil pembacaan Mahatma terhadap teks Malin Kundang baik yang berasal dari kaba lama maupun baru. Pada adegan ketiga ini, meminjam tubuh kedelapan pemain (Yunisa Dwiranda, Ivan Harley, Emilia Dwi Cahya, Tenku Radja Ganesha,  Novi Delviana, Desi Fitriana, Muhammad Rizki Asrul, dan Suci Dwi Cintya Murni), Mahatma memposisikan diri sebagai tukang cerita.     

Dalam pertunjukan ini peran tukang cerita menjadi penting. Semua berawal dari tukang cerita kutukan-kutukan itu dikabarkan. Namun jangan sekali-kali bertanya tentang kebenaran cerita ini kepada tukang cerita. Jauh sebelum pertunjukan ini dimulai tukang cerita saat membuka pertunjukan telah cuci tangan terlebih dahulu tentang kebenaran berbagai cerita yang dikabarkan. Prinsip utama yang dipegang oleh seorang tukang cerita dalam pertunjukan tradisi di Minang adalah, bahwa ia tidak bertanggung jawab terhadap kebenaran maupun ketidakbenaran sebuah kaba yang disampaikan. Jikapun terdapat sebuah kebohongan dalam kaba yang disampaikan, maka ia tidak ikut menanggung dan bertanggung jawab atas kebohongan yang tersampaikan lewat kaba itu. Begitu pun juga tukang cerita yang dihadirkan dalam pertunjukan Alam Takambang Jadi Batu, berkali-kali tukang cerita itu berujar, “kabar orang kami kabarkan, dusta orang kami tak serta”.

Mahatma menghadirkan tiga karakter tokoh yaitu Malin, Ibu, dan tukang cerita. Tokoh-tokoh itu tidak diperankan oleh satu orang pemain, bisa jadi dalam satu adegan peran ibu dimainkan oleh lebih dari satu pemain, begitu pun juga peran Malin dan tukang cerita. Dalam salah satu adegan Mahatma menampilkan semua pemainnya bisa menjadi ibu. Ibu-ibu yang menjadi tanah kelahiran, ibu-ibu yang letih menunggu anaknya pulang, dan ibu-ibu yang mengutuki anaknya. Peran Malin juga ditampilkan oleh lebih dari satu orang pemain, sehingga menunjukkan Malin-Malin yang terus lahir pada tiap zaman. Malin-Malin yang terkutuk dengan beragam sumpah serapah, Malin-Malin yang durhaka, dan Malin-Malin yang membatu. Begitu pun juga peran tukang cerita, semua pemain dapat menjadi tukang cerita, sebagaimana dalam realitasnya semua orang Minang adalah tukang cerita.

Pertama kali kaba disampaikan oleh ibu kepada anak-anaknya, melalui kaba itulah nilai-nilai agama, adat, pendidikan, sosial, dan nilai-nilai lainnya tersampaikan. Kisah Malin Kundang juga tersampaikan melalui kaba, dari kaba itulah kutukan-kutukan itu lahir. Kaba disampaikan oleh seorang tukang cerita, yang dalam pertunjukan Alam Takambang Jadi Batu ini disebut-sebut sebagai Si Paja Tu atau si orang itu. Si orang itulah yang telah mengabarkan bahwa Malin telah menikah dengan seorang putri cantik, Malin telah sukses merantau di negeri seberang. Dikabarkan juga bahwa Malin akan datang bersama istrinya namun tidak akan mengakui ibu kandungnya, hingga turunlah kutuk kepadanya.

Mahatma melihat bahwa ibunya Malin Kundang adalah kaba, sementara tukang cerita yang menyampaikan kaba itu sebagai “ibunya kaba atau “ibunya ibu”. Dapat dilihat bahwa kebudayaan Minang yang menganut garis keturunan dari seorang ibu, menempatkan tukang cerita atau “ibunya kabasebagai penyampai nilai-nilai yang akan melahirkan “ibu-ibu” atau kabakaba baru. Selanjutnya “ibu-ibu” atau kaba-kaba ini juga akan melahirkan Malin Kundang-Malin Kundang baru sebagai sosok laki-laki Minang yang terkutuk. Melalui kabakaba inilah kebudayaan Minang terbentuk, oleh karena itu dapat dipahami bahwa kaba tidak hanya sebagai ibunya Malin Kundang, tetapi juga sebagai ibu bagi kebudayaan Minangkabau. 

Pertunjukan Alam Takambang Jadi Batu menunjukkan pola dramaturgi teater tradisi. Pemain dapat dengan leluasa keluar masuk menjadi tokoh-tokoh yang berbeda bahkan menjadi dirinya sendiri. Antara realitas pertunjukan dan realitas penonton tidak berjarak, pemain dapat langsung berinteraksi dengan penontonnya. Lakuan-lakuan aksi para pemain disajikan melalui akting, tembang, tari, dan musik. Pemain dapat membelakangi penonton yang bagi teater modern hal itu dianggap tabu. Setting dan property dihadirkan secara sederhana. Kesadaran bahwa pertunjukan adalah sebuah hiburan atau tontonan semata, tanpa harus mengajak para penontonnya untuk berempati yaitu merasakan, berfikir, dan bertindak sebagaimana yang dirasakan, difikirkan, dan dilakukan oleh si tokoh.

Nan Tumpah sebagai teater modern masih tetap menggunakan spirit teater tradisi Sumatera Barat. Pembacaan yang dilakukan Nan Tumpah terhadap bentuk-bentuk teater tradisi Sumatera Barat (randai, indang, dan tupai janjang), telah menciptakan bentuk-bentuk baru yang mencerminkan diri dan generasinya. Tampaknya Mahatma sadar bahwa tradisi justru dapat menenggelamkan pribadi atau kreator, ketika kita selalu berorientasi pada sesuatu yang telah mapan, karena kemapanan justru menjauhkannya dari kreativitas. Pembacaan yang berulang-ulang terhadap teks-teks tradisi justru menghidupkan teks tradisi tersebut. Apa yang Mahatma bersama Nan Tumpah lakukan justru semakin menghidupkan teks Malin Kundang dalam kebudayaan Minangkabau. Hidupnya teks Malin Kundang ini juga semakin memperteguh adat matrilineal dalam kebudayaan Minangkabau.

Secara adat, Minangkabau menganut garis keturunan dari ibu. Hubungan antara ibu dan anak laki-laki dalam kisah ini mendudukkan posisi ibu yang kuat. Seorang anak laki-laki Minang begitu dia menikah, maka menurut adat dia harus tinggal di rumah istrinya, dan anak keturunannya akan mengikuti garis keturunan dari istrinya. Dalam konteks inilah, kisah Malin Kundang menjadi penting, karena kisah ini berupa anjuran untuk selalu menjaga hubungan baik antara ibu dan anak laki-lakinya. Jadi meskipun setelah dia menikah tidak lagi tinggal di lingkungan keluarga ibunya, namun dia tetap harus kembali pulang ke kampung halamannya berbakti kepada keluarga ibunya. Bentuk keberbaktian itu diwujudkan melalui tanggung jawab seorang mamak terhadap kemenakan dari saudara perempuannya.

Bisa jadi bahwa membatunya Malin Kundang di pantai Air Manis itu, karena tidak bertanggung jawabnya seorang anak laki-laki Minang terhadap keluarga asal atau keluarga ibunya. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa kisah Malin Kundang tidak hanya sekedar berbicara soal pendurhakaan, tetapi juga menjadi legitimasi terhadap sistem matrilineal di Minangkabau.***

Yogyakarta, 14 Agustus 2017