SENDRATARI RAMAYANA BALEKAMBANG

SENDRATARI RAMAYANA BALEKAMBANG

SENDRATARI RAMAYANA BALEKAMBANG

Sendratari  Ramayana menjadi salah satu agenda Pemerintah Kota (Pemkot) sebagai upaya mempromosikan wisata Solo pada turis, sekaligus untuk mendongkrak eksistensi Taman Balekambang. Pementasan ini biasanya dihelat di Teater Terbuka. Namun, apabila ada kendala cuaca dan penyaji punya konsep lighting berbeda, pementasan akan dilangsungkan di Gedung Kesenian Balekambang. Taman Balekambang memang menjadi salah satu venue pertunjukan seni di kota Bengawan. Berbagai pertunjukan seni dari tari tradisional, tari modern, pergelaran musik, hingga festival nasional maupun internasional kerap dilangsungkan di taman warisan Mangkunegaran ini. Di Taman Balekambang terdapat panggung terbuka yang dilengkapi dengan satu pendapa sebagai tempat gamelan dan sinden atau penyanyi Jawa untuk mengiringi para penari di tengah panggung. Panggung beton juga dilengkapi dengan bangku penonton membentuk setengah lingkaran mengitari panggung.

Setiap digelar, event bulanan ini mendapat respon baik dari masyarakat Solo sejak tahun 2012 dibuktikan dengan penonton selalu penuh bahkan membeludak. Pergelaran yang diadakan setiap bulan purnama ini selalu membawakan rangkaian epos Ramayana. Sanggar-sanggar tari di Kota Solo tampil bergiliran setiap bulannya. Mereka membawakan judul yang berbeda tapi tetap berkesinambungan. Berbeda dengan Sendratari Ramayana Prambanan yang dilangsungkan seminggu tiga kali, Sendratari Ramayana di Taman Balekambang ini hanya dipentaskan pada minggu ketiga. Seluruh pementasaan akan diakhiri dengan pemberian award untuk penampilan terbaik setiap tahunnnya. Hal inilah yang membuat sejumlah sekolah maupun sanggar tari antusias dalam setiap pertunjukkan Sendratari Ramayana.

KETOPRAK BALEKAMBANG

KETOPRAK BALEKAMBANG

KETOPRAK BALEKAMBANG

Kedua kelompok ketoprak Solo, yakni Ketoprak Seniman Muda Surakarta dan Ketoprak Balekambang mulai 2019 bergabung menjadi Ketoprak Balekambang. Kelompok baru tersebut mementaskan karya pertama di Balekambang, Sabtu (5/1/2019). Sebelum pentas, kelompok baru tersebut mengadakan tasyakuran sederhana. Tampak hadir di antaranya, Ronggo Sukasdi, Randimo, Nano Asmaradana, Slamet Meteor Slenk, Dwi Mustanto dan Tatak Prihantoro (mewakili Ketoprak Muda Balekambang). Mereka duduk lesehan setengah lingkaran menghadap nasi bancakan. Doa bersama sebagai wujud syukur bersatunya kembali dua grup yang sebelumnya main sendiri-sendiri, yakni Ketoprak Seniman Muda Surakarta dan Ketoprak Balekambang. Doa bersama dipimpin oleh Nano Asmarandana. Seusai doa bersama dilanjutkan penuangan naskah lakon Daniswara Ngratu. Pentas disutradarai oleh Meteor Slamet Slenk. Pentas perdana mengangkat kisah perebutan harta, tahta, wanita yang berujung pada kehancuran di kerajaan Purwocarita.

Kisah tersebut menurut  Slamet, memuat pesan moral agar kita bisa saling menjaga persatuan antar anak bangsa dan tidak mudah menerima informasi yang belum jelas sumbernya. Pentas ketoprak didukung  60 seniman seniwati, dikemas dengan menggabungkan unsur  ketoprak klasik dan modern dengan ditampilkanya deretan pelawak terkenal Bogang, Joleno, dan kawan-kawan. Pentas disaksikan sekitar 100 penonton, berlangsung semarak dan berakhir pukul 23.00 WIB.

https://solo.tribunnews.com/2019/01/07/ketoprak-balekambang-solo-pentas-perdana.

Malam Ini, Ketoprak Balekambang Pentaskan Daniswara Ngratu

KEPATIHAN SOLO ART

KEPATIHAN SOLO ART

KEPATIHAN SOLO ART

Budaya warisan leluhur perlu dijaga dan dilestarikan oleh generasi bangsa sebagai cermin peradaban suatu bangsa. “Mau” dan “Mampu” melestarikan kebudayaan bangsa kita sendiri adalah suatu kebanggan tersendiri bagi bangsa. Gelaran ketoprak dengan cerita Raden Mas Said – Pangeran Samber Nyowo adalah bukti kongkrit, bahwa seni dan budaya bangsa Indonesia tetap lebih dicintai oleh seluruh masyarakat khususnya di Kota Surakarta. Pagelaran ketoprak yang diadakan di jalan Abdul Muis pada Minggu (1/9/2019), berlangsung sangat meriah. Mulai dari anak-anak hingga dewasa berhasil memukau seluruh penonton yang hadir. Mereka dengan apik membawakan seluruh dan isi cerita yang disajikan. Selain pergelaran ketoprak, “Kepatihan Kulon Solo Art” juga diisi dengan serangkaian bazar dengan menonjolkan potensi-potensi UKM yang ada di wilayah Kelurahan Kepatihan Kulon.

Rangkaian acaa dimulai dengan kirab budaya pada siang sampai sore hari. Kemudian acara dilanjutkan pada malam hari dengan pergelaran ketoprak. Warga dan seniman Solo turut berpartisipasi sebagai pendukung dalam pergelaran ketoprak, tampil dengan bagus.

KIRAB BUDAYA BABINSA KEPATIHAN KULON HADIR DITENGAH WARGA PADA EVENT KEPATIHAN SOLO ART

https://lintasdaerah.com/kepatihan-kulon-solo-art-2019/

Kampung Seni FSRD ISI Surakarta

Kampung Seni FSRD ISI Surakarta

Kampung Seni FSRD ISI Surakarta

Kampung Seni ISI Solo adalah event tahunan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Surakarta. Pada tahun 2014 masih bertitle Pasarseni2014. Kampung Seni merupakan adalah Brand baru. Hal ini ditujukan untuk memberikan positioning dan segmentasi yang lebih jelas untuk melibatkan masyarakat sekitar dan Solo Raya. Acara berlangsung di sepanjang boulevard masuk kampus II, Lapangan Dekanat, Gedung Serba Guna Prabangkara, halaman dan Gedung II Kriya Seni, halaman dan Gedung III (Gedung Pengetahuan) dan Gedung VI (Seni Rupa Murni) serta Galleri Seni.

Peserta Kampung Seni adalah:

  1. Masyarakat dan komunitas seni warga sekitar kampus II dan Solo Raya.
  2. Entreprenuer muda dalam berbagai bidang. (Bazar dan Culinary, Clothing dan Distro, Craft, Boutique, Batik) dan berbagai perusahaan swasta di Solo Raya.
  3. Para ahli dan praktisi di bidang seni. (workshop, creative sharing).
  4. Anak TK, Siswa SD-SMU sd. Mahasiswa (Berbagai Lomba).
  5. Mahasiswa dan Dosen serta seniman (Pameran Karya Seni).
  6. Prodi Batik, Keris, DKV, Kriya, TV dan Film, Seni Rupa Murni, Desain Interior, Fotografi dan Seniman Solo Raya (Instalasi Seni).
  7. Radio Kampus (ISIRadio) dan ISI TV.
  8. Semua UKM mahasiswa.
  9. Masyarakat Umum

 

 

Kampung Seni yang diselenggarakan oleh  BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) FSRD ISI Surakarta sebagai perwujudan gelar potensi mahasiswa khususnya yang berbasis industri kreatif. Event yang menampilkan potensi dan karya dari mahasiswa FSRD ISI Surakarta ini, antara lain berupa pameran seni rupa dan desain, fashion show, batik carnival, workshop, instalaai seni, mural, lomba lukis anak. Kemudian, kontes fotografi, kompetisi Instagram, bazzar potensi industri kreatif, hiburan tari dan live music, serta performing lainnya akan digelar di lokasi yang tersebar di Boulevard Kampus II, FSRD ISI Surakarta, Mojosongo, Ringroad Utara. Ada juga beragam workshop gratis dari 8 Prodi FSRD ISI Surakarta yang akan dihadiri dari peserta siswa SMU/SMK  se-Solo Raya. Seperti Workshop Kolase, Workshop Phyrografi Kulit, Workshop Shibori Kaos, Workshop Nungging Warangka, Workshop Kamera Lubang Jarum, Workshop Blog (Video Blog), Workshop Lampu Benang dan Workshop Merchandising.

KAMPUNG SENI ISI SOLO

https://www.google.com/amp/s/solo.tribunnews.com/amp/2017/09/14/tampilkan-karya-seni-mahasiswa-fsrd-isi-solo-kampung-seni-4-dihelat-mulai-jumat-besok

BATIK ART FEST ISI SURAKARTA

BATIK ART FEST ISI SURAKARTA

BATIK ART FEST ISI SURAKARTA

ISI Surakarta sebagai perguruan tinggi seni berbasis kearifan budaya nusantara mendapatkan mandat dari UNESCO untuk membuka pendidikan formal Batik. Maka, pada tahun 2012 dibuka program studi Batik, Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) di ISI Surakarta. Sehubungan dengan kepedulian pada pelestarian batik, maka terselenggarakan Batik Art Fest. Batik Art Fest merupakan event tahunan Program Studi Batik Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Acara ini digelar untuk memperingati Hari Batik Nasional. Mahasiswa bisa belajar banyak dari batik. Karya-karya batik juga bisa dipromosikan dan bisa bersaing di tingkat global.

Acara ini menjadi salah satu wadah untuk mahasiswa Prodi Batik ISI Surakarta dan desainer-desainer muda memamerkan hasil karyanya. Selain itu, Batik Art Fest juga menjadi ajang promosi agar karya-karya itu bisa dilirik konsumen. Acara ini juga menyelenggarakan kegiatan Mbatik 12 jam menggunakan canting. Cara tradisional seperti ini memakan waktu lebih lama tapi kualitas batiknya tidak perlu diragukan lagi, karena nggunakan bahan alami, batik ini pun ramah lingkungan.

http://soloevent.id/kenali-batik-art-fest-isi-surakarta-dari-5-hal-ini/

Solo City Jazz

Solo City Jazz

Solo City Jazz

Solo City Jazz (SCJ) merupakan event tahunan di Kota Solo. Konser musik ini kali pertama digelar pada 2009 di halaman Pasar Triwindu koridor Ngarsopuro. Bertambah tahun, gelaran SCJ sering berpindah tempat, mulai dari Benteng Vastenburg, Taman Balekambang, 2018 di Pasar Gede dan di dalam kereta uap Jaladara, dan di tahun 2019 di kawasan kampung batik Laweyan. Banyak musisi nasional yang telah tampil mengisi panggung Solo City Jazz, seperi Fariz RM, Inna Kamarie, Dian Pramana Poetra, Ermy Kulit,  Margaretta Gerttruda, Indra Lesmana, Jungkat Jungkit, The Rangers, Nona Ria, Vibes, Destiny, Ben Sihombing.

Acara ini juga bisa memberi kesadaran dalam melestarikan karya budaya bangsa, serta merupakan kendaraan untuk mempromosikan Indonesia khususnya Kota Solo ke mancanegara

Tidak Sekedar Tari

Tidak Sekedar Tari

Tidak Sekedar Tari Biasa

Tidak Sekedar Tari adalah acara dua bulanan yang dilaksanakan di Pendopo Wisma Seni. Tidak Sekedar Tari atau lebih sering disingkat TST menjadi salah satu wadah untuk para seniman tari bereksperimen. Dapat dikatakan bahwa TST menjadi lanoraturium mereka untuk berkarya, bertemu, dan berdiskusi persoalan karya yang tampil. Melalui pertemuan pada acara TST, para seniman akan mencoba eksplorasi bentuk-bentuk tari yang baru yang basic tariannya bisa tradisi, klasik, maupun modern. Acara ini terselenggara berkat kerjasama antara Taman Budaya Jawa Tengah, Komunitas Wisma Seni, Studio Taksu dan Yayasan Ekos Dance. Karya dan kelompok yang pernah tampil antara lain “Ngligo” karya Nadjib (Inund), “Suku” garapan Jogja’s Body Movement, “Momoye” arahan Dwi Surni Cahyaningtyas, “Tumuruning” karya Tumuruning Nur Rahayu Lestari (Cikal), “Lost Control” karya Agil Pramudya Wardana, dan “Dji” karya Hendro Utomo (Omah Citra Kayangan).Tidak Sekedar Tari diadakan setiap 2 bulan sekali yang  jatuh pada bulan genap. Yang tampil disini hampir selalu karya eksploratif. Mereka bebas menampilkan apa yang mau mereka tampilkan, tapi pada prinsipnya muncul warna-warna baru yang dicapai dan sangat variatif.

Wayang Wong Sriwedari

Wayang Wong Sriwedari

Wayang Wong Sriwedari

Di Kota Solo kita bisa menemukan tempat khusus untuk menonton Wayang Orang yang lokasinya satu kompleks dengan Stadion Sriwedari. Penonton Wayang Orang Sriwedari berasal dari berbagai usia mulai dari anak kecil, anak muda, dan orang dewasa walaupun dominannya berisikan orang dewasa. Bahkan tidak jarang banyak turis mancanegara yang ikut menyaksikan pertunjukan Wayang Orang, dengan bantuan screen berisi terjemahan dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, para turis dan penonton lain dapat menikmati pertunjukan tanoa kesulitan bahasa yang digunakan para pemain Wayang Orang.

Para pemain Wayang Orang Sriwedari adalah pegawai negeri sipil Pemkot Solo yang memang bertugas secara khusus untuk menari dan tampil di pertunjukan wayang orang. Pengangkatan para pemain wayang sebagai PNS ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Pemerintah Kota Solo untuk melestarikan pertunjukan Wayang Orang Sriwedari. Sejak tahun 2001, wayang wong Sriwedari dikelola oleh Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Diparsenibud) di bawah Seksi Pengendalian dan Pelestarian Aset Seni dan Budaya melalui surat keputusan Wali Kota Surakarta nomor 25 tahun 2001. Wayang Wong Sriwedari saat ini tercatat di Museum Rekor MURI sebagai organisasi wayang tertua. Wayang ini pernah mengadakan pementasan di Jerman dan Eropa Barat. Wayang Wong Sriwedari memiliki koordinator, sutradara, asisten sutradara, bagian penjual tiket, penabuh gamelan atau pengrawit, pelakon atau disebut anak wayang, dan dekorasi.

Bukan Musik Biasa

Bukan Musik Biasa

Bukan Musik Biasa adalah Forum Musik dan Dialog yang rutin perform tiap sekali dalam 2 bulan. Sebagai forum yang memerdekan gagasan-gagasan kreatif, BMB telah dengan sendirinya menempatkan diri sebagai laboratorium eksperimentasi bagi para komponis, untuk membangun kembali kreativitas, menemukan cara atau metode, konsep-konsep dan pikiran-pikiran baru dalam penciptaan musik. Bersyukurlah Sadra, untuk mengawal dan menjaga visi estetis tersebut ia mendapat mitra Taman Budaya Surakarta (TBS) yang mensuport hampir keseluruhan keperluan teknis yang dibutuhkan: Pendapa Wisma Seni sebagai venue, Sound System dan lighting berikut semua tim teknisnya, hingga akomodasi, konsumsi, serta publikasinya.

bukan musik biasa

“Bukan Musik Biasa” (BMB) hadir mewadahi komposer-komposer muda dalam kekaryaan baru di dunia musik kontemporer. Sesuai misi visinya BMB bukan hanya media komunikasi antara kreator dan apresiator, melainkan juga ruang untuk melihat potensi tiap individu maupun kelompok dalam mengolah daya cipta. Maka BMB bukan sekedar event musik melainkan juga media diskursus dan dialektika musik tersendiri yang bergelindang di tengah arus indutrialisasi. 

Pada kesempatan ini, akan tampil komposer muda, yaitu Supri & Yogi (Solo), Juan Arminandi (Pontianak), dan Sanggar Kulino Riyot (Solo). Diskusi Budaya juga akan diadakan dengan menghadirkan pembicara Danis Sugiyanto dan Moderator Muhklis Anton Nugroho.
Kegiatan Bukan Musik Biasa edisi ke 69 yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation diselenggarakan pada tanggal 21 Maret 2019, pukul 19.30 WIB, di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Surakarta, Jl. Ir. Sutami 57 Surakarta. 

http://rockerstarfuck.blogspot.com/2016/03/sedikit-deskripsi-tentang-bukan-musik.html

https://www.indonesiakaya.com/agenda-budaya/detail/teater-pandora-mempersembahkan-lakon-suto-mencari-jabatan