Solo City Jazz

Solo City Jazz

Solo City Jazz

Solo City Jazz (SCJ) merupakan event tahunan di Kota Solo. Konser musik ini kali pertama digelar pada 2009 di halaman Pasar Triwindu koridor Ngarsopuro. Bertambah tahun, gelaran SCJ sering berpindah tempat, mulai dari Benteng Vastenburg, Taman Balekambang, 2018 di Pasar Gede dan di dalam kereta uap Jaladara, dan di tahun 2019 di kawasan kampung batik Laweyan. Banyak musisi nasional yang telah tampil mengisi panggung Solo City Jazz, seperi Fariz RM, Inna Kamarie, Dian Pramana Poetra, Ermy Kulit,  Margaretta Gerttruda, Indra Lesmana, Jungkat Jungkit, The Rangers, Nona Ria, Vibes, Destiny, Ben Sihombing.

Acara ini juga bisa memberi kesadaran dalam melestarikan karya budaya bangsa, serta merupakan kendaraan untuk mempromosikan Indonesia khususnya Kota Solo ke mancanegara

Tidak Sekedar Tari

Tidak Sekedar Tari

Tidak Sekedar Tari Biasa

Tidak Sekedar Tari adalah acara dua bulanan yang dilaksanakan di Pendopo Wisma Seni. Tidak Sekedar Tari atau lebih sering disingkat TST menjadi salah satu wadah untuk para seniman tari bereksperimen. Dapat dikatakan bahwa TST menjadi lanoraturium mereka untuk berkarya, bertemu, dan berdiskusi persoalan karya yang tampil. Melalui pertemuan pada acara TST, para seniman akan mencoba eksplorasi bentuk-bentuk tari yang baru yang basic tariannya bisa tradisi, klasik, maupun modern. Acara ini terselenggara berkat kerjasama antara Taman Budaya Jawa Tengah, Komunitas Wisma Seni, Studio Taksu dan Yayasan Ekos Dance. Karya dan kelompok yang pernah tampil antara lain “Ngligo” karya Nadjib (Inund), “Suku” garapan Jogja’s Body Movement, “Momoye” arahan Dwi Surni Cahyaningtyas, “Tumuruning” karya Tumuruning Nur Rahayu Lestari (Cikal), “Lost Control” karya Agil Pramudya Wardana, dan “Dji” karya Hendro Utomo (Omah Citra Kayangan).Tidak Sekedar Tari diadakan setiap 2 bulan sekali yang  jatuh pada bulan genap. Yang tampil disini hampir selalu karya eksploratif. Mereka bebas menampilkan apa yang mau mereka tampilkan, tapi pada prinsipnya muncul warna-warna baru yang dicapai dan sangat variatif.

Wayang Wong Sriwedari

Wayang Wong Sriwedari

Wayang Wong Sriwedari

Di Kota Solo kita bisa menemukan tempat khusus untuk menonton Wayang Orang yang lokasinya satu kompleks dengan Stadion Sriwedari. Penonton Wayang Orang Sriwedari berasal dari berbagai usia mulai dari anak kecil, anak muda, dan orang dewasa walaupun dominannya berisikan orang dewasa. Bahkan tidak jarang banyak turis mancanegara yang ikut menyaksikan pertunjukan Wayang Orang, dengan bantuan screen berisi terjemahan dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, para turis dan penonton lain dapat menikmati pertunjukan tanoa kesulitan bahasa yang digunakan para pemain Wayang Orang.

Para pemain Wayang Orang Sriwedari adalah pegawai negeri sipil Pemkot Solo yang memang bertugas secara khusus untuk menari dan tampil di pertunjukan wayang orang. Pengangkatan para pemain wayang sebagai PNS ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Pemerintah Kota Solo untuk melestarikan pertunjukan Wayang Orang Sriwedari. Sejak tahun 2001, wayang wong Sriwedari dikelola oleh Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Diparsenibud) di bawah Seksi Pengendalian dan Pelestarian Aset Seni dan Budaya melalui surat keputusan Wali Kota Surakarta nomor 25 tahun 2001. Wayang Wong Sriwedari saat ini tercatat di Museum Rekor MURI sebagai organisasi wayang tertua. Wayang ini pernah mengadakan pementasan di Jerman dan Eropa Barat. Wayang Wong Sriwedari memiliki koordinator, sutradara, asisten sutradara, bagian penjual tiket, penabuh gamelan atau pengrawit, pelakon atau disebut anak wayang, dan dekorasi.

Bukan Musik Biasa

Bukan Musik Biasa

Bukan Musik Biasa adalah Forum Musik dan Dialog yang rutin perform tiap sekali dalam 2 bulan. Sebagai forum yang memerdekan gagasan-gagasan kreatif, BMB telah dengan sendirinya menempatkan diri sebagai laboratorium eksperimentasi bagi para komponis, untuk membangun kembali kreativitas, menemukan cara atau metode, konsep-konsep dan pikiran-pikiran baru dalam penciptaan musik. Bersyukurlah Sadra, untuk mengawal dan menjaga visi estetis tersebut ia mendapat mitra Taman Budaya Surakarta (TBS) yang mensuport hampir keseluruhan keperluan teknis yang dibutuhkan: Pendapa Wisma Seni sebagai venue, Sound System dan lighting berikut semua tim teknisnya, hingga akomodasi, konsumsi, serta publikasinya.

bukan musik biasa

“Bukan Musik Biasa” (BMB) hadir mewadahi komposer-komposer muda dalam kekaryaan baru di dunia musik kontemporer. Sesuai misi visinya BMB bukan hanya media komunikasi antara kreator dan apresiator, melainkan juga ruang untuk melihat potensi tiap individu maupun kelompok dalam mengolah daya cipta. Maka BMB bukan sekedar event musik melainkan juga media diskursus dan dialektika musik tersendiri yang bergelindang di tengah arus indutrialisasi. 

Pada kesempatan ini, akan tampil komposer muda, yaitu Supri & Yogi (Solo), Juan Arminandi (Pontianak), dan Sanggar Kulino Riyot (Solo). Diskusi Budaya juga akan diadakan dengan menghadirkan pembicara Danis Sugiyanto dan Moderator Muhklis Anton Nugroho.
Kegiatan Bukan Musik Biasa edisi ke 69 yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation diselenggarakan pada tanggal 21 Maret 2019, pukul 19.30 WIB, di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Surakarta, Jl. Ir. Sutami 57 Surakarta. 

http://rockerstarfuck.blogspot.com/2016/03/sedikit-deskripsi-tentang-bukan-musik.html

https://www.indonesiakaya.com/agenda-budaya/detail/teater-pandora-mempersembahkan-lakon-suto-mencari-jabatan

Festival Ketoprak Pelajar Klaten 2019

Festival Ketoprak Pelajar Klaten 2019

Festival ketoprak pelajar yang diselenggarakan di Aula SD Krista Gracia merupakan perhelatan ke-X. Festival ketoprak pelajar ini merupakan prakarsa Amigo Peduli Budaya, pada pelaksanaannya bekerja sama dengan Dewan Kesenian, Omah Wayang, dan tentunya pemerintah terkait rutin sejak tahun 2010. Pada tahun 2019 ini diikuti oleh 62 sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK, dengan rincian jumlah FKP tingkat SMA/SMK diselenggarakan 12-15 September, dengan jumlah peserta 24 sekolah tingkat provinsi. FKP tingkat SMP, 27-29 September, diikuti 19 sekolah, dan FKP tingkat SD dijadwalkan 11-13 Oktober dengan peserta 19 sekolah. Edy Sulistyanto (pemrakarsa FKP sekaligus pemilik Amigo Grup) menjelaskan tujuan penyelenggaraan FKP untuk mewujudkan generasi muda cinta budaya, sekaligus sebagai wadah pendidikan budi pekerti, moral, dan karakter siswa.

FKP 2019 ini menjadi spesial karena bertempatan dengan peluncuran buku berjudul Sang Pengerek Tonil karya Sri Warsiti. SMAN I Karanganyar, yang menyajikan cerita Nyi Ageng Karang, juga terpilih sebagai penyaji terbaik I. Kemudian, penyaji terbaik II SMAN 1 Karangnongko dengan lakon Mertobat, dan penyaji terbaik III SMKN 1 Sumber Rembang yang menampilkan cerita Empu Pakuwojo. Sebagai dagelan terbaik I Sawitri dari SMK Kes Rahani Husada, terbaik II Adisaroh (SMAN 1 Wedi) dan terbaik III Kembang Katresnan (SMAN 1 Polanharjo). Pemain putra terbaik I Pringgoloyo (SMAN 1 Karanganyar), terbaik II Empu Pakuwojo (SMKN 1 Sumber Rembang), dan terbaik  III Ki Tambi (SMAN 1 Karangnongko). Adapun penyaji favorit SMAN 1 Karangdowo. Acara ini terselenggara atas dukungan dari pemerintah provinsi, khususnya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang hadir saat penutupan FKP 2019 tingkat SMA/SMK.

Penulis: Djoko Sardjono – 11 September 2019, 08:06 WIB

SUARA MERDEKA SOLO

(14 September 2019)

Published by smscom in SENI BUDAYA2 hari ago

24 Sekolah Ambil Bagian dalam Festival Ketoprak Pelajar SMA X

https://mediaindonesia.com/read/detail/259659-sman-1-karanganyar-juara-i-festival-ketoprak-pelajar-x

Hari Tari Dunia

Hari Tari Dunia

Dalam rangka memeringati Hari Tari Sedunia yang jatuh tiap 29 April, Institut Seni Indonesia Surakarta memprakarsai menari 24 jam sejak tahun 2006. Di tahun 2019, ISI Surakarta kembali menunjukan eksistensinya melalui kegiatan World Dance Day atau Hari Tari Dunia 24 Jam Menari yang ke-13 dengan tema #GegaraMenari “urip mawa urup, urip hanguripi”.

Hari Tari Dunia SOLO

Salah satu pepatah Jawa yang bermakna sangat dalam yaitu, hidup dengan semangat, hidup memberi hidup. Tema ini mencerminkan bahwa dari awal tari telah menjadi entitas yang menyatu dengan kehidupan masyarakat hingga akhirnya tari bisa menghidupi masyarakat, membangun citra bangsa menjadi bangsa yang santun, beradab, mulia dan bermartabat.

Pengambilan tema #GegaraMenari merupakan salah satu srategi untuk menarik minat publik lebih luas melalui sarana media sosial. Acara digelar mulai tanggal 29-30 April 2019 pukul 06.00-06.00 WIB. Kesuksesan perayaan Hari Tari Dunia sebagai upaya mendorong peluang ruang apresiasi berbagai macam bentuk seni yang ada di Indonesia, dari penari usia dini sampai dewasa, tidak menutup kemungkinan untuk penari difable, serta mampu menampilkan kesenian rakyat, kesenian modern sampai kesenian ritual.   

Acara ini juga menunjukkan kesatuan persatuan dari seluruh penjuru daerah Indonesia dan Mancanegara serta antusiasme para Budayawan dan para Empu Tari, pun para difable yang tidak kehilangan semangat juangnya. Dimulai dengan rangkaian pra-event yaitu workshop tari dari 7 Perguruan Tinggi Seni Indonesia dengan tema “Relung, Ranah, dan Ruang”.

Hari Tari Dunia

Tak kurang dari 175 grup tari yang menampilkan sekitar 600 jenis tarian 24 jam nonstop. Selain rangkaian pementasan dari grup tari, seperti tahun sebelumnya ada tarian 24 jam nonstop yang terdiri dari 6 penari (secara individu), masing-masing berasal dari Bali, Kalimantan, dan Jawa. Para penari melakukan seluruh aktivitas selama 24 jam dengan tetap menari.

Penampilan tidak hanya dihiasi oleh penari lokal dan tarian Indonesia, ada beberapa negara yang ikut berkontribusi yaitu Perancis, Philipina, Australia. Beberapa penampilan tari yang disajikan dalam rangkaian 24 jam menari antra lain, Gelar Karya Tari Keraton, Gelar Karya Tari Empu yang dimeriahkan oleh penampilan Empu seperti Wied Senjayani yang dikenal sebagai tokoh penari balet, Wahyu Santoso Prabowo dengan tari Jawa gaya tari alus Surakarta.

Theodora Retno Maruti, pendiri sanggar tari Padnecwara, meskipun telah berdomisili di Jakarta, tetapi tetap mengembangkan tari Jawa klasik menjadi suatu pagelaran yang monumental, dan Frans Jiu Luway yang berasal dari Kalimantan Timur. Kemudian pentas karya Jonet Sri Kuncoro S.Kar,. M.Hum (Dosen Tari ISI Surakarta) yang meneliti dan menciptakan karya tari bersama penari difable se-Karisidenan Surakarta, Sarasehan, pagelaran tari alumni penari 24 jam (tahun 2006-2019), Pagelaran Panggung Bhineka Nusantara 2019, pertunjukan tari dari darmasiswa, pameran foto seni pertunjukan tari, bazar kerajinan dan kuliner, wisata ritual tari, dan orasi budaya.

 https://nationalgeographic.grid.id/read/13298425/sejarah-hari-tari-dunia?page=all

https://www.indonesiakaya.com/agenda-budaya/detail/rayakan-hari-tari-dunia-2019-institut-seni-indonesia-surakarta-gelar-24-jam-menari-ke-13

Hari Wayang Dunia

Hari Wayang Dunia

Sejak 7 November 2003, wayang kulit ditetapkan UNESCO sebagai “Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity”.  Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta bakal mengadakan Hari Wayang Dunia (HWD).

Hari Wayang Dunia

Dalam rangka memperingati Hari Wayang Dunia, sejak 2015 Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Jurusan Pedalangan khususnya, menggelar pertunjukan wayang. Pada tahun 2018 disajikan pentas maraton selama 4 hari, mulai 6-9 Nopember 2018. Ada 37 pertunjukan wayang berbagai jenis, dengan melibatkan 38 dalang, tiga diantaranya dalang cilik.

Pembukaan dilaksanakan Selasa (6/11) malam oleh Direktur Kesenian Kemdikbud RI, Dr. Restu Gunawan, didampingi REKTOR ISI Surakarta Dr.  Guntur M.Hum, di Pendapa Ageng Joyokusumo Kampus ISI Surakarta.
Hari pertama disebut malem midodareni menyajikan pertunjukan Wayang Kulit Ruwatan Sukerta oleh Ki Manteb Sudarsono dengan lakon Murwakala. Kemudian dilanjutkan pementasan wayang secara berurutan.

Hari Wayang Dunia SOLO

Adapun jenis wayang yang ijut memeriahkan rangkaian Hari Wayang Dunia yaitu Wayang Kulit, Wayang Orang, Wayang Purwo Gaya Surakarta, Wayang Purwo Gaya Jogjakarta, Wayang Purwo Gaya Jawa Timuran, Wayang Banjar, Wayang Jawa Timuran, Wayang Dupara, Wayang Parwa Bali, Wayang Golek, Wayang Kancil, Wayang Santri, Wayang Wahyu, Wayang Perjuangan, Wayang Krucil, Wayang Kolaborasi, dan Wayang Nebus Kembar Mayang. Salah satu yang menarik hadir tiga dalang cilik yang ikut tampil, yakni Alatarik Mu’amar Zidan Alfaro, Dimas Wijayasena dan Galar Pamayang. Sedangkan untuk venue yang digunakan untuk pertunjukan wayang menggunakan Pendapa Ageng Joyokusumo dan Teater Besar Gendon Humardani.
Menurut Rektor ISI Surkarta dalam sambutan membuka HWD ke-4, kegiatan ini dapat digunakan untuk menambah cakrawala tentang kebhinekaan wayang di Indonesia, juga untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat terutama generasi muda tentang pentingnya nilai nilai kehidupan yang tersirat di dalam seni pewayangan.


Dalam rangkaian peringatan Hari Wayang Dunia, ISI juga menggelar berbagai kegiatan, antara lain lomba menggambar wayang, ruwatan masal, pameran seni rupa, pameran wayang-wayang lawas, dan buku-buku wayang. Terakhir, acara ditutup dengan orasi budaya oleh H. Mohammad Syakirun alias Cak Kirun dan pertunjukan wayang kaloborasi oleh dalang Ki Begug Purnomosidhi.

http://soloevent.id/hari-wayang-dunia-2018-bakal-dimeriahkan-5-kegiatan-ini/

http://www.rmoljateng.com/read/2018/11/07/13702/Hari-Wayang-Dunia,-ISI-Gelar-37-Pertunjukan-Dengan-38-Dalang-

SIPA (Solo International Performing Arts)

SIPA (Solo International Performing Arts)

Arts As A Social Action menjadi tema SIPA 2019 hendak mengajak masyarakat Indonesia untuk peka terhadap isu sosial di lingkungan sekitarnya dan sekaligus ingin menunjukkan bahwa seni dapat digunakan sebagai medium dalam melakukan aksi sosial. Humas SIPA 2019 Iqbal menambahkan di tahun ke-11 ini SIPA mengusung tema Arts As A Sosial Action.

RANGKAIAN ACARA SIPA

Tema tersebut dipilih karena seni pertunjukan yang disajikan di panggung SIPA tak hanya untuk dinikmati. Tetapi juga menyampaikan isu-isu krusial dalam kehidupan sosial. Dimulai tanggal 5-7 September 2019 mulai pukul 19.00 WIB, bertempat di Benteng Vastenburg, Solo, panitia memilih Elizabeth Sudira (pembawa acara (master of ceremony) sekaligus penyanyi)

sebagai maskot Solo International Performing Arts (SIPA) 2019. SIPA menjadi ajang berkumpulnya para seniman dalam menampilkan gagasan, karya, hingga terobosan baru dari masing-masing penampil. Dari akun Instagram @sipafestival, Selasa (3/9/2019), seniman dari Indonesia yang akan tampil antara lain De Tradisi (dari Medan), Fierart Dance Group (Bandung), Labor Seni Terasuru (Aceh), Malay Dans Studio (Riau), Mila Art Dance (Yogyakarta), Folakatu Art Tidore (Tidore), Kemlaka Sound of Archipelago (Solo), Duta Seni KS (Banten), Abib Igal Dance Project (Yogyakarta), dan Aceh Performance Art (Aceh).

Sedangkan musisi dari Asia yang akan tampil di SIPA 2019 antara lain; Hi Mask

Di Dalam Rumah

Di Dalam Rumah

Ujian Tugas Akhir Penciptaan Seni Teater Program Pascasarjana ISI Surakarta Oleh Luna Kharisma. “Di Dalam Rumah #3” Daya Hidup Perempuan Pasca Perceraian, Dekonstruksi Mitologi Calon Arang.

Penyaji menggunakan penyutradaraan kontemporer. Penyutradaraan kontemporer tidak mengharuskan seorang sutradara menganut komposisi-komposisi tertentu di atas panggung. Sutradara berhak untuk melakukan segala percobaan untuk menyusun sesuatu yang sama sekali berbeda atau bersilang sengkarut dengan komposisi yang lain. Dalam konsep penyutradaraan kontemporer, tak ada pertanyaan yang terjawab secara otomatis, tak ada gaya yang wajib dianut, tak ada penafsiran yang selalu benar (Yudiaryani 2002, 236). Sutradara tidak melulu menjadi guru bagi aktor dan tim yang lainnya, tetapi justru mengajak untuk bersama-sama berpikir, memilih, mencoba, mencari, dan menentukan apa saja pilihan-pilihan audio dan/ visual dalam pertunjukan. Teater kontemporer memungkinkan sutradara untuk melakukan pencarian dengan metode eksperimental.

Sesuatu yang eksperimental berarti tak terbatas. Sesuatu yang dieksperimentalkan berarti tidak berhenti pada satu titik temu, melainkan dicari secara terus-menerus hingga menemukan sesuatu yang pas untuk dihadirkan dalam pertunjukan. Eksperimental tak lain adalah upaya pencarian untuk menolak sejumlah standar lama dan mencari kemungkinan-kemungkinan baru (Dewanto 2017, 198). Maka, dalam mengolah suatu pertunjukan sutradara perlu melihat kembali tanda-tanda atau bentuk-bentuk tertentu yang telah dianggap sebagai kebenaran tunggal untuk dapat diolah kembali atau bahkan dihancurkan.

Video Kami

Parusa Kahyun

Parusa Kahyun

Ujian Tugas Akhir Minat Pemeranan Oleh Catur Sri Untari Prodi Seni Teater ISI Surakarta. Gedung Teater Kecil ISI Surakarta, Selasa, 30 juli 2019. “PARUSA KAHYUN” Rekonstruksi cerita rakyat “Suminten Edan”. “Warok Gunoseco, Bapakku, ora trima ajining dhiri wong Wengker dipidak-pidak. Mula kuwi banjur nglawan Adhipati Natakusumo sing sawenang-wenang. Lan aku, Roro Suminten, aku ya trima, nanging ora trimaku ora mung merga keluargaku sing wis dadi korban, ora! Nanging ora trimaku ya kanggo kabeh wong wadon ing Bumi Wengker, kanggo kabeh wong wadon ing Majapahit, lan kanggo kabeh wong wadon sing ana ning endi wae. Wis ora jamane wong wadon mung dadi kanca wingking”

Penyaji menggunakan konsep garap one man play (troubadur) menggunakan pemeranan via negativa dengan metode Jerzy Grotosky. Pendekatan akting representasi digunakan untuk menciptakan tokoh Suminten dalam naskah Parusa Kahyun. Pendekatan ini digunakan sebagai acuan untuk menghadirkan tokoh Suminten dalam diri aktor.

Teater one man play merupakan suatu pertunjukan yang dibawakan oleh satu orang, namun aktor hanya berpijak pada roh tokoh-tokoh yang dibawakan untuk mendukung keaktorannya. Teknik akting one man play ini hanya merujuk pada meniru karakter tokoh yang dibawakan sehingga aktor mampu mengolah rasa dan ketepatan dialog yang sesuai dengan tokoh-tokoh yang dibawakan. Proses one man play dihadirkan penyaji untuk menunjang proses penciptaan tokoh Rara Suminten dan angan-angan yang dihadirkan tokoh Rara Suminten.

Video Kami