Belajar Pada Dalang Setan

Belajar pada Dalang Setan

Oleh: Wahyu Novianto

 

Di kaki Lawu suluk menggema memecah malam, angin dari gunung yang basah itu malu-malu menyentuh kulit. Diam-diam udara dingin merambati tubuh masuk dari sela-sela celana. Dengan sigap beberapa orang menyembuyikan kaki mereka di antara lipatan duduknya. Di pinggir hamparan sawah yang luas di dalam rumah joglo yang terbuka itu, lima belas orang duduk bersila dengan penuh takzim, mendengarkan untaian ilmu yang disampaikan oleh Ki Manteb Soedharsono. Semua diam tidak ada suara, binatang di sawah itu pun melirihkan suaranya, begitu pun juga angin terasa sungkan memasuki rumah. Hanya sesekali terdengar bunyi kendaraan yang melintas di Jalan Solo-Tawangmangu yang jauh berada di sebarang sawah.

Tepat di bawah tumpang sari dalam rumah joglo itu, hari pertama (02/07) kegiatan BBM di rumah Ki Manteb diisi dengan mendengarkan dongeng yang disampaikan oleh Ki Manteb Soedharsono. Semua orang larut ke dalam dongeng yang dikisahkan. Dongeng tentang masa kecil, dongeng awal belajar mendalang, dongeng menjadi guru yang selalu menjadi muara ilmu bagi murid-muridnya, tersaji dengan sangat runtut dan rapi. Seakan mendengarkan sebuah cerita dalam lakon pewayangan, meskipun tanpa wayang, kelir, dan seperangkat gamelan, Ki Manteb membawa kelima belas orang itu memasuki setiap dongeng yang dikisahkannya. “Namanya kok bisa Manteb itu gimana pak?”, tiba-tiba seseorang yang berambut gundul dengan suara yang serak celethuk memecah kesunyian.

Lalu Ki Manteb melanjutkan kisahnya, ia bercerita kalau nama sebenarnya adalah Soedharsono. Nama Manteb diberikan oleh ibunya, setelah ibunya mencicipi rokok Siong yang katanya rasanya sangat mantap. Sejak itulah kemudian ibunya menambahkan kata Manteb di depan nama Soedharsono. Sontak semua orang tertawa, seseorang yang duduk di pojok bersandar pada tiang sampai menumpahkan gelas teh dengan kakinya. Selayaknya mendalang joke-joke segar selalu terlontar, dengan bahasa yang sederhana Ki Manteb piawai mengemas setiap kisah hidupnya.           

Kelima belas orang itu adalah siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) dari seluruh Indonesia yang lolos seleksi mengikuti program Liburan Asyik Belajar Bersama Maestro (BBM). Program yang diselenggarakan oleh Direktorat Kesenian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini berlangsung dari tanggal 01-14 Juli 2019. Selain Ki Manteb Soedharsono terdapat sembilan belas maestro seni lain di Indonesia yang telah ditunjuk oleh Direktorat Kesenian. Selama empat belas hari para peserta BBM ini tinggal di rumah sang maestro. Menjadi bagian dari ekosistem seni yang telah dibangun oleh maestro. Masing-masing maestro ditempati lima belas orang peserta BBM.

Di rumah Ki Manteb, para siswa yang berusia belasan tahun itu tak hanya diterima menjadi murid, tetapi lebih sebagai cucu-cucunya. Beberapa cucu Ki Manteb yang berada di luar kota secara khusus juga dia telpon untuk datang berbaur dengan para peserta BBM. Jadilah selama empat belas hari itu Ki Manteb Soedharsono panen cucu. Rumah yang tadinya hening itu mendadak rame. Ki Manteb menjadi sibuk melayani cucu-cucu barunya itu. Bu Manteb pun tak kalah sibuknya, dengan dibantu asisten rumah tangga, setiap hari pagi-pagi harus berbelanja ke pasar Karangpandan untuk mempersiapkan masakan-masakan terbaik untuk para cucu barunya itu.

Lima belas peserta BBM itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Aceh (Fajar Azizi Boang Manalu, Ulfina Fitri), Banten (Matilda Tobing), Bali (Diah Puspita Dewi), Jawa Tengah: Semarang (Prasojo Prihantono, Adhi Danar Dono), Pati (Miftahul Arif), Sukoharjo (Adnan Hasyim Wibowo), Brebes (Muhammad Lutfi Aziz), dan Kebumen (Ade Luthfi Usa Azhari) dan Jawa Timur: Ponorogo (Nadia Putri Maharani), Trenggalek (Muhammad Sufa Syahadilla), Lumajang (Rizqika Yanuar Maghfiro), Malang (Mohammad Nudzulul Purnama), dan Blitar (Nadya Lutfiana Putri). Beberapa diantaranya tidak bisa berbahasa Jawa, bahkan ada yang belum  pernah nonton pertunjukan wayang. ”Saya memilih pak Manteb karena di Aceh tidak ada wayang, saya ingin tahu wayang itu seperti apa”, ujar Ulfina Fitri salah seorang siswi dari SMA Negeri Unggul Subulussalam, Aceh.

Berbeda dengan Fitri, Muhammad Sufa Syahadilla dan Mohammad Nudzulul Purnama justru telah memiliki banyak pengalaman di bidang seni pedalangan dan karawitan. Syaha panggilan akrab Muhammad Sufa Syahadilla ini adalah siswa SMA Negeri 1 Trenggalek, sejak tahun 2016 ia tercatat sebagai dalang cilik dari Kabupaten Trenggalek. Begitu pun juga dengan Moh. Nudzulul Purnama siswa dari SMAN 3 Malang, ia telah aktif dalam pertunjukan wayang di kota Malang. Kebanyakan para peserta BBM adalah anggota ekstrakulikuler teater di sekolahnya (10 orang), dua siswa dari minat  karawitan, dua siswa dari minat pedalangan, dan satu siswa dari minat atletik.

Selama empat belas hari, para peserta BBM tidak hanya belajar seni pada maestro, tetapi juga belajar pada kehidupan sehari-hari sang maestro. Hubungan maestro dengan orang-orang di sekelilingnya, tetangga, bahkan dengan keluarganya. Inilah ekosistem yang dibangun oleh maestro. Ekosistem seni yang menjadikan dirinya kreatif dan produktif. Ki Manteb telah membangun ekosistem itu sejak 1987 dengan didirikannya sanggar Bima di Desa Domplang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sampai sekarang sanggar Bima menjadi tempat pendidikan non formal tidak hanya bagi para calon dalang, tetapi juga menjadi tempat untuk belajar karawitan dan pembuatan wayang kulit. Setiap Selasa Legi yang juga bertepatan dengan hari kelahiran Ki Manteb, sanggar Bima secara rutin menyelenggarakan pertunjukan wayang kulit dengan dalang-dalang professional, maupun dalang didikan sanggar Bima.          

Dengan beragam latar belakang minat itulah, Ki Manteb sadar bahwa dirinya tidak sedang mencetak orang untuk menjadi seorang dalang. Namun melalui seni menjadikan seseorang memiliki jati diri. Sebelum seorang seniman mengekpresikan perasaan kepada orang lain, maka dia harus tahu perasaan dirinya sendiri dulu. “Kita harus tahu siapa diri kita sebenarnya”, tegas Ki Manteb. Dari tahu siapa diri kita itulah, kita mampu memposisikan diri pada situasi, tempat, dan beragam orang manapun. Bagaimana bisa memahami orang lain, kalau dengan dirinya sendiri saja ia tidak paham. “Maka orang yang belajar seni itu pasti menjadi manusia yang bijak, kalau dia tidak makin bijak berarti salah dia belajarnya”. Ki Manteb kemudian menutupnya dengan joke berbahasa Jawa, “nek urung bijak reneo sinau karo aku (kalau belum bijak kesini belajar sama saya)”. Semua siswa tertawa, tak terkecuali siswa yang dari Aceh, Banten, dan Bali pun juga ikut tertawa, meskipun terlihat sebetulnya hanyalah ikut-ikutan tertawa.

Pada masa awal pembelajaran, hari kedua (03/07) di rumah Ki Manteb, para peserta BBM justru ditanya materi apa yang dibutuhkan sehingga memilih Ki Manteb, “kamu mau apa, apa yang kamu butuhkan dari saya?”, tanya Ki Manteb. Sebagai seorang maestro seni pertunjukan khususnya Pedalangan, Ki Manteb tentu mempunyai kunci-kunci untuk membuka gerbang minat-minat itu terbuka lebar. Maka para siswa pun tidak mensiasiakan kesempatan ini, mereka langsung bersahutan tunjuk jari bertanya sesuai dengan pengembangan minatnya masing-masing. Dari mulai minat bidang sastra (baca puisi dan menulis lakon), bermain drama, karawitan, dan pedalangan semua ditanyakan. Ki Manteb tidak memaksakan semua siswa untuk belajar wayang, namun justru memberikan kebebasan untuk menumbuhkan minatnya masing-masing. Maka ilmu yang akan diberikan pun juga disesuaikan dengan minatnya itu. Oleh karena itu, dalam memenuhi berbagai keinginan para siswa itu, Ki Manteb dibantu oleh tiga orang asisten sekaligus yaitu Sasangka Bayuaji Nugroho, S.H., Cucuk Suhartini, S.Sn., dan Guntur Gagat Tri Putranto.

Menjadi ‘Dalang Setan’

Kedua orang tua Ki Manteb adalah seorang dalang. Perpaduan yang istimewa bagi seorang seniman Jawa. Ayahnya bernama Ki Brahim Hardjowiyono adalah seorang dalang, begitu pun juga ibunya: Darti, juga seorang dalang perempuan. Tidak hanya kedua orang tuanya saja yang dalang, kakek dari pihak ayah atau pun ibu juga seorang dalang. Yaitu Ki Djarot Hardjowiguno, kakek dari pihak ayah. Sementara kakek dari pihak ibu, Ki Gunawan Gunowihardjo, keduanya adalah dalang terkenal pada masanya. Jadi baik dari pihak ayah atau pun ibu, Manteb adalah keturunan dalang. Maka saat ini Ki Manteb juga menjadi dalang ruwatan, karena syarat utama bagi seorang dalang ruwat adalah keturunan langsung dari seorang dalang.    

Terlahir saat Negara Indonesia baru berumur 3 tahun, tepatnya pada hari Selasa Legi, tanggal 31 Agustus 1948 di Dusun Jatimalang, Desa Palur, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa tengah. Adalah anak pertama dari tujuh bersaudara. Manteb kecil oleh kedua orang tuanya sudah dipersiapkan untuk menjadi dalang. Di bawah asuhan langsung Ki Brahim Hardjowiyono itulah, Manteb kecil belajar mendalang. Manteb selalu ikut kemanapun ayahnya pergi mendalang, meskipun harus tidur di antara sela-sela gamelan saat matanya sudah mulai mengantuk. Maka tidak heran saat usianya baru 5 tahun, Manteb sudah mahir memainkan wayang dan menabuh gamelan.

Dalam jagad pewayangan, Ki Manteb dikenal sebagai tokoh pembaharu. Melalui kreasi dan inovasinya pertunjukan wayang saat ini digemari oleh anak-anak muda. Ki Manteb adalah dalang yang dikenal karena inovasinya pada garap pakeliran, seperti tampak dengan adanya prolog, perang dengan iringan palaran, narasi cerita dengan macapat atau tembang. Juga penggunaan alat-alat musik non gamelan seperti drum, organ, gitar, trompet, dan saksofon. Penggunaan alat-alat musik non gamelan tersebut membuat pertunjukan menjadi meriah, beragam tembang popular Jawa dapat dinyayikan. Alat musik drum juga mampu memberikan efek dramatik, terutama pada saat adegan perang. Belum lagi penampilan para pelawak pada adegan goro-goro, semakin menjadikan pertunjukan Ki Manteb selalu dipenuhi penonton. Garap pakeliran Ki Manteb ini yang kemudian banyak menginspirasi dalang-dalang lain sehingga melakukan hal yang sama.

Ki Manteb juga telah menggeser estetika pedalangan yang awalnya bertumpu pada catur (janturan, pocapan, dan ginem) menjadi sabet. Sabet tidak hanya sekedar menggerakkan wayang, tetapi lebih dari itu adalah menghidupkan wayang. Bagaimana wayang tampak hidup di kelir. Tanpa harus disertai catur, penonton sudah tahu apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh tokoh tersebut. Ki Manteb memegang teguh  apa yang telah gurunya sampaikan. Adalah Gendon Humardhani, pendiri ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) sang guru itu. “Sabet yang baik itu tidak sekedar terampil atau akrobatik semata, tetapi sabet yang mampu mewakili dialog tokoh-tokohnya”, begitu Ki Manteb menirukan nasehat gurunya itu. Sejak saat itulah Ki Manteb mendalami sabet, detail-detail gerak wayang dia pelajari, sampai dia kemudian mendapat julukan dalang setan karena kepiawaiannya memainkan sabet wayang.

Meskipun Ki Manteb tidak melalui pendidikan formal sekolah pedalangan, namun pergaulannya sehari-hari dengan para mahasiswa ASKI. Melalui arahan Gendon Humardhani, saat itu ASKI baru giat-giatnya menciptakan konsep pertunjukan wayang berupa garap pakeliran padat. Yaitu pertunjukan wayang yang padat dan berisi. Adegan-adegan yang disajikan lebih ringkas, efektif, dan efisien. Langsung pada inti ceritanya saja, cerita-cerita yang tidak perlu dihilangkan, sehingga tidak terjadi pengulangan dan penampilan adegan yang tidak penting. Oleh karena itu, pertunjukan menjadi lebih pendek  dari pada pertunjukan wayang biasanya. Garap pakeliran padat para mahasiswa ASKI inilah yang kemudian banyak mempengaruhi sajian pertunjukan wayang Ki Manteb.      

Pergaulannya dengan dunia akademis itulah yang menjadikan Ki Manteb memiliki pandangan yang luas dan terbuka. Ia terabas pakem-pakem tradisi pewayangan, berbagai inovasi dalam garap pakeliran ia ciptakan. Ki Manteb menyadari bahwa tradisi justru akan menenggelamkan identitas seniman, ketika selalu berorientasi pada sesuatu yang telah mapan, karena kemapanan justru menjauhkannya dari kreativitas. Maka bagi Ki Manteb kreativitas itu yang utama. Kunci dari kreativitas adalah sikap kritis. “Saya senang kalau ada orang yang bersikap kritis, banyak bertanya, karena itu tandanya berarti dia berfikir”, ujar Ki Manteb sambil menyeruput kopi panas dan menyantap pisang goreng hangat berkebul-kebul. “Ayo siapa lagi yang mau bertanya”, tegas Ki Manteb kembali memancing para siswa untuk kritis.         

Berkat kreativitas itulah Ki Manteb tidak hanya sukses sebagai dalang, tetapi juga sebagai pemain wayang orang, film, sinetron, dan bintang iklan. Untuk bintang iklan secara khusus Ki Manteb hanya bersedia dengan satu produk saja. Sejak tahun 1990 Ki Manteb hanya berkontrak iklan dengan produk obat sakit kepala. Berkat kesetiaan itu Ki Manteb setiap tahun terus menerima honor, bahkan saat meninggal pun akan turun ke ahli warisnya. Menjadi bintang iklan obat sakit kepala itu juga yang menjadikan Ki Manteb terkenal dengan sebutan dalang oye, karena sesuai dengan slogan pancen oye pada iklan obat tersebut. Ki Manteb menjelaskan bahwa sebetulnya dari honor iklan itu saja sudah lebih dari cukup untuk hidup sehari-hari, namun sebagai dalang bukan materi ukurannya. Dalang memiliki tanggung jawab besar untuk menyampaikan ilmu, seperti juga seorang kyai. Hal itulah yang menjadikan meskipun usianya telah 76 tahun namun masih giat mendalang, berkeliling di Indonesia bahkan dunia.           

Berbagai penghargaan di bidang kebudayaan telah banyak ia peroleh. Ki Manteb jugalah yang mengantarkan wayang mendapat penghargaan dari Unesco sebagai warisan budaya dunia pada tanggal 21 April 2004 di maskar besar Unesco di Paris, Perancis. Dedikasinya terhadap wayang juga telah menghantarkannya memperoleh gelar Empu Paripurna dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Suatu gelar yang menyamai profesor dalam jabatan akademik di perguruan tinggi. Sampai saat ini di tengah kesibukannya mendalang, ia masih sempat menyisihkan waktunya untuk mengajar para mahasiswa Jurusan Pedalangan ISI Surakarta. “Ini bagian dari balas budi saya terhadap ASKI (sekarang ISI), meskipun saya bukan mahasiswa ASKI tetapi saya dibesarkan oleh ASKI”, kenang Ki Manteb.       

Menjadi Keatif, Menjadi Toleran

Liburan Asyik Belajar Bersama Maestro adalah program yang secara khusus dirancang untuk mengisi hari libur para siswa SMA. Beragam latar belakang budaya menjadikan para peserta BBM untuk saling mengenal satu sama lain. Belajar untuk memahami perbedaan-perbedaan baik dari segi agama, bahasa, dialek, dan ciri-ciri fisik lainnya. Berbeda tidak kemudian untuk disamakan atau diseragamkan, tetapi justru untuk saling mengenal perbedaan-perbedaan itu. Dari melihat sesuatu yang berbeda dari kita, justru kita mampu untuk mengetahui diri kita, kelebihan dan kekurangan kita. Tanpa orang lain kita tidak tahu siapa diri kita. Dari sanalah kita saling belajar untuk mengenalkan atau memberikan sesuatu yang menjadi kelebihan kita, dan mengambil kelebihan dari orang lain untuk menutup sesuatu yang menjadi kekurangan kita.

Selama empat belas hari mereka tinggal bersama, tidur, makan, cuci baju, bersih-bersih rumah, dan segala aktivitas lainnya dilakukan secara bersama-sama. Bercerita satu sama lain tentang rumah dan lingkungan masing-masing, bahkan saling menguatkan saat salah satu diantaranya rindu orang tua dan rumah. Namun Ki Manteb yang telah tiga kali ditunjuk sebagai maestro BBM ini sadar betul bagaimana menangani para peserta BBM. Tak hanya aktivitas di rumah yang dilakukan, untuk mengurangi kebosanan juga dilakukan aktivitas di luar rumah. Pada hari keempat (04/07) para peserta BBM diajak menyaksikan pertunjukan monolog Srintil yang dibawakan oleh Trie Utami dengan sutradara Iswadi Pratama, di Teater Terbuka, Taman Budaya Surakarta, Jawa Tengah. Tak hanya sekedar menyaksikan, para peserta BBM juga diberi tugas untuk mencatat semua yang tidak diketahuinya, selanjutnya catatan tersebut akan menjadi bahan diskusi bersama.   

Tak hanya apresiasi pertunjukan teater, aktivitas di luar rumah lainnya yang dilakukan adalah tamasya ke obyek wisata di kawasan Karanganyar. Hari Sabtu (06/07), pagi-pagi setelah sarapan bersama mereka telah bersiap untuk pergi. Sopir pribadi Ki Manteb sajak pagi telah sibuk mempersiapkan armadanya. Membersihkan dan memanasi mobil. Tepat pukul 08.00 mobil Hiace yang ditumpangi para peserta BBM berangkat menuju Candi Cetho. Candi Cetho yang berada di puncak gunung Lawu itu membuat jalan yang dilalui menanjak dan berkelok-kelok. Samping kanan dan kiri jalan terhampar kebun teh yang luas. Udara segar dengan aroma teh masuk dari pintu jendela mobil yang terbuka. Tak begitu sulit mobil Hiace untuk menapaki jalan yang berliku-liku. Sesampainya di atas, para peserta BBM disambut dengan sekawanan kabut yang menutupi menara candi. Matahari pagi tampaknya tak cukup mampu membentengi tubuh dari udara dingin. Lambat laun menyusuri relief-relief Candi Cetho yang begitu vulgar itu tampaknya telah membuat udara dingin tak lagi terasa.  

Para peserta BBM tak lupa juga diajak ziarah ke makam presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto di Giri Bangun, Karanganyar. Makan Soeharto tidak begitu jauh dari rumah Ki Manteb. Dikisahkan oleh Ki Manteb bahwa Soeharto adalah Presiden Republik Indonesia yang sangat peduli terhadap seni tradisi Jawa, khususnya wayang. Pada era pemerintahan Soeharto semua pejabat menjadi suka wayang. Acara-acara pemerintahan selalu dengan pertunjukan wayang. Wayang selalu menjadi cinderamata untuk tamu-tamu kenegaraan. Soeharto secara khusus juga pernah mengumpukan para dalang untuk menciptakan lakon wayang. Bahkan dikisahkan bahwa kepemimpinan Soeharto itu pun mengambil filosofis dari tokoh wayang. Pada masa inilah era keemasan pertunjukan wayang.      

Seakan mengajak cucu-cucunya pergi berlibur, di hari keempat kegiatan BBM itu Bu Manteb juga membawa para peserta BBM ke Pasar Klewer di Solo. Dibelikanlah para peserta BBM itu masing-masing satu kemeja batik sebagai kenang-kenangan. Motif batik yang sengaja dipilih sama itu menjadi seragam para peserta BBM Ki Manteb Soedharsono. Tak mau salah pilih, bu Manteb sendiri yang memilihkan motif dan jenis kainnya, begitu juga menentukan ukuran yang tepat bagi para peserta BBM.     

Ki Manteb membawa para peserta BBM ini seperti tradisi nyantrik atau ngenger dalam sistem pembelajaran di Jawa. Nyantrik adalah aktivitas belajar yang dilakukan oleh seseorang, sedangkan orangnya disebut sebagai cantrik. Cantrik berasal dari bahasa Jawa yang berarti orang yang berguru pada orang pandai atau berilmu. Seorang cantrik akan tinggal di rumah sang guru untuk beberapa waktu, menjadi bagian dari keluarga sang guru. Selayaknya dalam tradisi pesantren-pesantren salafiyah di Jawa dimana seorang santri juga tinggal dan menjadi bagian dari keluarga sang kyai. Mengikuti kemana pun sang guru atau kyai itu pergi, bahkan membantu segala aktivitas di rumah sang guru atau kyai tersebut. Pembelajaran menjadi tidak terbatas, bisa jadi saat sedang bersih-bersih rumah itu ilmu sang guru tersampaikan, atau saat sedang makan, jalan, dan aktivitas keseharian lainnya. Maka selalu berada di dekat sang guru atau kyai, menjadi semakin banyak ilmu yang akan diserapnya. Bisa jadi bahwa kata santri itu berasal dari kata cantrik, karena kata santri hanya ada di Jawa, bahkan tidak ditemukan dalam bahasa Arab. Kalau asumsi itu benar, maka sebetulnya tradisi nyantrik telah ada sejak dahulu kala, bahkan sebelum Islam masuk di Jawa. 

Belajar kepada maestro menjadi salah satu cara menjaga kebenaran ilmu. Hari ini ilmu dapat diperoleh dari mana saja, baik langsung berhubungan dengan orang, atau pun melalui dunia virtual. Semua orang pun dapat dengan mudah menyebarkan ilmu itu, dan dengan mudah pula kita meyakini kebenaran ilmu itu, tanpa melihat asal-usul orang yang mewartakan dan tahu silsilah ilmu itu sendiri. Seorang maestro atau pun kyai memiliki jalur keilmuan yang jelas, dia belajar pada siapa, kemudian gurunya juga belajar pada siapa dan seterusnya. Dalam tradisi pesantren disebut sebagai sanad yaitu silsilah nama-nama pewarta yang membawakan suatu berita tentang hadist nabi atau kejadian-kejadian sejarah. Ki Manteb juga sangat menjaga silsilah ilmunya, beberapa nama disebut seperti Ki Brahim Hardjowiyono dan Gendon Humardhani. Melalui program BBM Ki Manteb juga telah mewariskan ilmu yang telah ia peroleh dari guru-gurunya itu. Maka dari kegiatan inilah kebenaran ilmu itu akan terus terjaga.     

Selayaknya seorang cantrik, para peserta BBM itu pun setiap pagi setelah sholat subuh, saat matahari masih enggan memperlihatkan wajahnya, mereka olah raga bersama, olah vocal dan olah tubuh. Berada di persawahan di antara pohon padi yang hijau dan sapuan udara dingin dari gunung tidak menyurutkan semangat mereka, berbagai huruf dan kata mereka ucapkan dengan lantang. Berbagai teknik pernafasan untuk produksi suara diajarkan. Begitu juga tubuh, dengan metode bermain-main mereka diajak untuk olah tubuh. Gerak-gerak untuk melatih kekuatan, keseimbangan, keluwesan, dan kerjasama diperkenalkan. Beberapa siswa yang tadinya masih mengenakan jaket dan sarung tiba-tiba mereka tanggalkan. Di pagi yang dingin itu baju mereka telah basah oleh keringat, matahari pagi yang telah berani menampakkan wajahnya menambah kehangatan pada tubuhnya yang basah.

Selanjutnya setiap pagi selepas berolah raga, mereka diajak jalan keliling kampung, blusukan menyusuri rumah-rumah, menyapa semua tetangga yang bertemu di jalan. Bahkan Ki Manteb memberikan tugas khusus pada mereka untuk mewancarai tetangga-tetangganya itu, menanyakan tentang dirinya di mata para tetangga-tetangganya itu, terkait hubungan dirinya dengan para tetangga, peran dirinya dalam kegiatan sosial, budaya, dan keagamaan. Tidak ada komentar negatif sedikit pun, semua tetangga memuji Ki Manteb. Dari aktivitas itu Ki Manteb hendak menunjukkan pada para peserta BBM bahwa begitulah seorang dalang. Apa yang diucapkan dan dilakukan haruslah sama. “Ati, lathi, pakarti nyawiji”, tegas Ki Manteb. Jadi antara hati, pikiran, ucapan dan perbuatan harus sama.

Ki Manteb menjelaskan bahwa antara dalang dan orang yang hanya bisa mendalang itu berbeda. Dalang pasti bisa mendalang, tetapi kalau orang yang bisa mendalang belum tentu seorang dalang. Dalang tak cukup hanya trampil memainkan wayang, tetapi juga harus memiliki keluasaan ilmu. Apa yang disampaikan oleh dalang adalah ilmu, ilmu sosial, budaya, filsafat, dan agama. Ki Manteb menambahkan bahwa tidak ada pekerjaan yang lebih berat dari seorang dalang, semalaman tidak tidur, otak mikir, mulut berbicara, kedua tangan dan kaki gerak tanpa henti. “Apa pekerjaan di dunia ini yang seberat itu?”, tanya Ki Manteb. Tiba-tiba dengan nada polos dan penuh penasaran seorang peserta BBM bertanya, “bayarannya dalang itu berapa pak?”. Ki Manteb sambil senyum tipis menjelaskan bahwa masing-masing dalang memiliki harganya sendiri-sendiri, ada yang hanya cukup jutaan, puluhan juta, bahkan sampai ratusan juta. Namun meski didesak untuk menyebut angka harganya sendiri, dengan penuh diplomatis Ki Manteb menyatakan bahwa soal harga sudah ada yang urus sendiri, dia tahunya hanya mendalang saja.        

Dalang adalah pekerjaan yang mulia. Berasal dari dua akar kata wedha dan wulang, wedha merupakan kitab suci yang mengajarkan moral, etika, dan spiritual, sedangkan wulang berarti aktivitas mengajar ilmu atau agama. Dalang memiliki posisi yang strategis karena melalui kisah-kisah yang ditampilkannya mampu mempengaruhi manusia untuk berbuat baik. Maka, Wali Sanga pun menggunakan wayang untuk penyebaran agama Islam di nusantara. Namun hal itu berbanding terbalik dalam panggung politik. Dalang memiliki konotasi yang negatif. Dalang diidentikkan sebagai otak kerusuhan, atau aktor kunci di balik prahara politik. Dalam panggung politik kata wayang pun digunakan untuk penyebutan bagi peran-peran yang sejatinya digerakkan oleh sang dalang. Politik telah menjadikan kata dalang dan wayang mengalami perubahan makna.    

Selayaknya di rumah sendiri, tiap pagi para peserta BBM juga wajib bersih-bersih rumah dan mencuci pakaian masing-masing. Mereka gotong royong membersihkan rumah, menyapu lantai dan membersihkan karpet. Mereka juga rela antri untuk mandi sekaligus mencuci. Setelah aktivitas bersih-bersih selesai, dilanjut dengan sarapan bersama. Beraneka ragam sayur dan lauk telah dipersiapkan. Sesekali bu Manteb juga menghidangkan makanan secara kembul bujono yaitu tradisi makan bersama di Jawa dengan pelepah daun pisang sebagai alasnya. Mereka duduk bersila mengelilingi nasi dan sayur gudangan beserta lauk berupa telur rebus, tahu bacem, tempe dan ayam goreng. Tanpa menggunakan sendok mereka makan dengan penuh keceriaan. Tanpa sisa semua habis termakan.          

Dari aktivitas sehari-hari itu Ki Manteb mengajarkan bagaimana pentingnya kerjasama, disiplin, dan toleransi. Tidak hanya pemahaman seni yang kemudian disampaikan tetapi juga aktivitas keseharian. Bahkan aktivitas mendengarkan itu pun tidak luput untuk dihikmahi. “Saiki golek wong sing gelem ngerungokne wae angel (sekarang cari orang yang bersedia untuk mendengarkan saja susah), padahal dari mendengarkan kita menghargai orang lain, memahami apa yang dirasakan dan difikirkan orang lain. Hargai dulu orang lain sebelum kita juga minta orang lain untuk menghargai kita”, pesan Ki Manteb kepada para peserta BBM itu. Perbedaan karakter manusia seharusnya menjadikan kita untuk bisa saling memahami satu dengan yang lainnya, karena hanya atas dasar saling memahami itulah kita mampu berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain.     

Ki Manteb juga memperkenalkan bahwa pertunjukan wayang dibangun dari tokoh dan karakter yang berbeda-beda. Karakter tokoh yang baik akan mendapat kemuliaan, begitu pun juga karakter tokoh yang jahat akan memperoleh kehinaan dan penderitaan. Seperti kemuliaan dewi Sinta yang mampu menjaga kesetiaan, kehinaan Dursasana karena nafsu dan keserakahannya, penderitaan Sengkuni karena kelicikan dan siasat adu dombanya, atau Butho Cakil yang terbunuh oleh senjatanya sendiri, karena Cakil adalah simbol dari nafsu, maka yang dapat membunuh nafsu adalah dirinya sendiri. Begitu juga Dasamuka sebagai ibarat nafsu manusia yang tidak akan mati jika manusianya tidak mempunyai keinginan untuk menahan nafsunya sendiri. Nafsu akan tetap hidup selama manusia justru menghamba pada nafsunya. Wayang menjadi simbolisasi hidup manusia di dunia, wayang menyediakan pilihan-pilihan hidup bagi manusia untuk memilih kemuliaan ataukah kehinaan.  

Penggunaan bahasa sehari-hari dengan sesekali berbahasa Jawa, menjadikan yang rumit dan mendalam itu terasa renyah, tak terasa para peserta BBM sedang dikenalkan filsafat wayang. Tak hanya soal tokoh dan karakter, di hari ketujuh kegiatan BBM (07/07) Ki Manteb juga mengupas soal wanda wayang yaitu penampilan karakter khusus seorang tokoh peraga wayang pada suatu suasana tertentu. Setiap wanda mencitrakan karakter tertentu, begitu pun juga setiap wajah manusia menunjukkan wataknya. Semakin mendalam seseorang  belajar seni maka akan makin tajam untuk mampu membaca berbagai karakter manusia. Kesadaran untuk membaca karakter orang lain itu yang hari ini tidak ada. Kita semakin tidak mau untuk memahami orang lain, tetapi orang lainlah yang harus memahami kita. KeAkuan diri meningkat, toleransi dan gotong royong semakin menipis.

Di akhir program para peserta harus menyiapkan karya kreatif sebagai hasil dari proses belajar bersama maestro. Di sela-sela materi belajar, siang malam mereka berdiskusi menyiapkan ide, menulis draf cerita, menentukan peran, dan konsep artistiknya. Semua dilakukan secara mandiri oleh para peserta BBM. Materi yang didapat dari Ki Manteb mereka susun kembali disesuaikan dengan ide cerita yang akan digarap. Ketiga asisten Ki Manteb selalu setia mendampingi proses kerja kreatif para siswa, menjadi tempat bertanya berbagai persolan artistik yang dijumpai. Solusi atas berbagai masalah artistik itu tidak langsung diberikan, namun para peserta diarahkan untuk menemukan pemecahannya sendiri. Berbagai kerja artistik yang dialami diharapkan menjadi pengalaman yang berharga, dimana toleransi dan kreativitas diutamakan.

Dipilihlah cerita seputar pemilihan kepala desa yang dimenangkan oleh salah satu calon melalui politik uang. Setelah menjabat menjadi kepala desa, warga protes karena merasa pembangunan di desa tersebut terlambat. Penggunaan anggaran keuangan negara pelaporannya tidak jelas. Setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap tangan kepala desa tersebut, baru diketahui bahwa selama ini ternyata anggaran keuangan pembangunan desa dikorupsi, untuk menutup pembiayaan politik uang yang dikeluarkan selama masa pemilihan. Di hadapan hakim di pengadilan, kepala desa tersebut dijatuhi hukuman kurungan selama 15 tahun.

Cerita yang sederhana namun mendalam tersebut dipertunjukkan saat malam penutupan kegiatan BBM pada hari Sabtu (13/07). Pertunjukan dikemas menjadi dua bentuk sajian yaitu teater dan wayang. Seakan memberikan gambaran kekuasaan yang selalu diperebutkan, pertunjukan ini diawali dengan pembacaan puisi berjudul Kursi karya Ki Manteb Soedharsono. Adegan kemudian berubah di sebuah warung kopi, terdengar orang-orang kasak-kusuk memperbincangkan anggaran pembangunan desa yang tidak jelas pelaporannya. Selanjutnya adegan berpindah dengan menampilkan suasana gotong-royong yang dilakukan oleh warga, di tempat itulah warga mempertanyakan anggaran pembangunan desa kepada Kepala Desa, namun justru dijawabnya dengan bentakan dan ancaman. Di sebuah sudut ruang yang tersembunyi, Kelapa Desa menerima tamu khusus, ternyata transaksi suap menyuap sedang terjadi. KPK yang telah lama mengawasi gerak-gerik Kepala Desa tidak terlalu lama untuk melalukan tangkap tangan. Kasak kusuk warga menjadi terbukti dengan ditangkapnya Kelapa Desa tersebut oleh KPK.

Adegan kemudian berubah menjadi pertunjukan wayang yang disajikan oleh dua orang peserta BBM yaitu Muhammad Sufa Syahadilla dan Mohammad Nudzulul Purnama. Dua dalang cilik dari kota Trenggalek dan Malang. Dengan menampilkan adegan perang kedua dalang tersebut seakan mengisahkan perebutan kekuasaan yang akan terus ada, selama manusia tidak mampu mengendalikan nafsunya sendiri. Hasrat berkuasa selalu ada dalam diri manusia. Hasrat untuk menguasai, hasrat untuk menaklukkan dan hasrat untuk menang. Oleh karena itulah agama, hukum, dan norma-norma sosial mengaturnya. Tanpa agama, hukum, dan norma sosial manusia dapat menjadi seperti binatang.              

Malam itu tidak hanya menampilkan pertunjukan dari para peserta BBM Ki Manteb Soedharsono, tetapi juga pertunjukan tari para peserta BBM Didik Nini Thowok. Bersama rombongan Didik Nini Thowok datang dari Yogyakarta untuk bersama-sama memuncaki malam penutupan program BBM. Jadilah malam itu menjadi malam penutupan bagi kedua maestro. Dihadapan para tamu undangan yang datang, perwakilan kedua peserta BBM Ki Manteb Soedharsono dan Didik Nini Thowok, menyampaikan kesan-kesannya selama mengikuti program BBM. Suasana yang tadinya suka cita itu tiba-tiba berubah menjadi penuh haru dan air mata. Kedua perwakilan dari kedua maestro tersebut tidak mampu membendung air matanya yang terus menerus tumpah. Para tamu yang datang juga dibuatnya terharu. Bahkan beberapa orang terlihat diam-diam menghapus air matanya yang tak sengaja jatuh.    

Malam itu rumah Ki Manteb seperti sedang punya hajat besar. Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta hadir memberikan sambutan, begitu juga Pemerintah Kabupaten Karanganyar juga hadir memberikan sambutan. Kolega Ki Manteb sesama dalang di kawasan Surakarta, dan beberapa dosen di Jurusan Pedalangan ISI Surakarta juga hadir. Sebagian para orang tua peserta dan guru juga hadir. Para tetangga sejak dari habis maghrib telah berduyun-duyun mendatangi rumah Ki Manteb. Tenda dan kursi telah siap sejak siang hari. Kursi yang berjumlah 100 itu ternyata tidak muat untuk menampung semua tamu. Beberapa tetangga harus rela berdiri di samping pendopo. Di dapur ibu-ibu tak kalah repotnya mempersiapkan berbagai hidangan untuk tamu undangan, begitu juga para pemuda desa yang telah bersiap untuk menyajikan makanan dan minuman. Malam itu tak hanya menjadi perayaan bagi para peserta BBM dan kedua maestro, tetapi juga perayaan bagi warga desa Domplang yang menjadi tetangga Ki Manteb Soedharsono.          

Menjadi Indonesia

Saat ini wacana kebangsaan kembali menguat, orang kembali terusik jiwa nasionalismenya. Hal itu bukan tanpa alasan, terdapat beberapa orang atau kelompok tertentu yang secara terang-terangan atau pun sembunyi-sembunyi hendak mengganti dasar negara. Kebanyakan dari mereka justru anak-anak muda yang lahir pasca reformasi. Mereka tumbuh saat negara ini baru saja menikmati kebebasan, setelah selama 32 tahun dikuasai oleh rezim otoriter Soeharto. Atas nama kebebasan dan demokrasi berbagai isme dan ajaran muncul dan berkembang di Indonesia, masuk melalui kegiatan-kegiatan social, keagamaan, bahkan secara sembunyi-sembunyi masuk pada kurikulum-kurikulum sekolah. Berbagai gerakan radikalisme hari ini adalah hasil atas apa yang telah di tanam oleh pihak lain melalui berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan pendidikan itu.             

Ki Manteb sadar dengan kondisi itu, dipersiapkanlah kelima belas peserta BBM itu sekembalinya ke sekolah masing-masing untuk menjadi virus-virus yang menyebarkan nilai-nilai toleransi. Mereka akan menjadi agen-agen budaya yang mempengaruhi teman-temannya di sekolah. Minimal dimulai dari diri mereka sendiri. Menghargai berbagai perbedaan pendapat di kelas, mendengarkan teman lain berbicara, membantu teman lain yang memiliki masalah, berkerjasama dengan teman lain tanpa pilih-pilih, dan tindakan-tindakan toleran lainnya. Aktivitas tersebut sepertinya sederhana namun memberikan efek yang besar bagi perkembangan kepribadian mereka ke depan.

Saat ini jika satu maestro mengajar lima belas siswa, setiap tahun paling tidak sudah ada 300 orang agen yang siap menyebarkan virus-virus toleransi. Program BBM telah berlangsung selama tiga tahun, sehingga secara keseluruhan telah menciptakan 900 orang alumni BBM. Jumlah ini tentu sangat kecil dibanding dengan luas wilayah Indonesia dan jumlah keseluruhan siswa SMA. Namun dengan sikap-sikap keteladanan (toleransi dan kerjasama) yang terus menerus ditunjukkan akan menginspirasi siswa yang lain untuk melakukan hal yang serupa.

Hasil dari program BBM ini tidak akan langsung terasa manfaatnya, namun paling tidak 10 tahun ke depan kita akan panen genarasi muda yang sangat mencintai kebudayaan. Apa yang telah ditanam oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Program Liburan Asyik Belajar Bersama Maestro ini, juga harus dilakukan oleh kementerian, instansi pemerintah dan swasta lainnya untuk melakukan hal yang serupa. Karena merawat perbedaan dan menjaga persatuan adalah tanggung jawab kita bersama.

Dengan berbagai kegiatan yang serupa, akan memupuk sikap toleransi terhadap keberagaman budaya, agama, adat istiadat, bahasa, kesenian, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Toleransi dibangun dari sikap berbeda, ada sesuatu yang lain di luar diri kita. Sesuatu yang lain itu juga memiliki hak yang sama seperti kita. Suaranya juga patut untuk didengarkan, keberadaannya juga patut untuk dilihat, hidupnya juga butuh ruang yang sama untuk tumbuh. 

Ki Manteb menjelaskan bahwa kesenian memberikan kemungkinan untuk menyatukan berbagai unsur yang berbeda itu. Aransemen gamelan dibangun dari suara-suara yang berbeda, lukisan dibangun dari warna-warna yang berbeda, begitu pun juga tari di bangun dari berbagai gerak yang juga berbeda. Dalam kesadaran inilah para peserta BBM dipahamkan bahwa keindahan itu justru dibangun dari sesuatu yang berbeda. “Bahkan diri kita Ada, juga diciptakan dari dua unsur yang berbeda. Maka kemarin Anda saya ajak ke Candi Cetho, untuk menegaskan kembali bahwa diri kita Ada karena dari dua unsur yang berbeda itu”, tegas Ki Manteb. Menolak perbedaan sama juga dengan menolak untuk hidup.

Peran seni dalam pengelolaan keberagaman itu juga sempat ditegaskan oleh narasumber BBM, Nungki Kusumastuti, yang pada hari ketujuh (07/07) berkunjung di rumah Ki Manteb memantau langsung kegiatan BBM. Baginya, seni memberikan ruang dialog antar berbagai unsur yang berbeda. Tidak untuk saling menguasai dan menaklukkan, tetapi untuk berkerjasama dan saling mengisi. Dalam konteks inilah BBM menjadi penting sebagai strategi budaya mempersiapkan generasi muda ke depan. Generasi muda yang mencintai budayanya, generasi muda yang mampu merawat perbedaan, generasi muda yang mampu menjaga persatuan, generasi muda yang berkepribadian dan berkebudayaan Indonesia. Saat itulah kita telah menjadi Indonesia. ***        

Karanganyar, 2019.