Bukan Musik Biasa

Bukan Musik Biasa

Bukan Musik Biasa adalah Forum Musik dan Dialog yang rutin perform tiap sekali dalam 2 bulan. Sebagai forum yang memerdekan gagasan-gagasan kreatif, BMB telah dengan sendirinya menempatkan diri sebagai laboratorium eksperimentasi bagi para komponis, untuk membangun kembali kreativitas, menemukan cara atau metode, konsep-konsep dan pikiran-pikiran baru dalam penciptaan musik. Bersyukurlah Sadra, untuk mengawal dan menjaga visi estetis tersebut ia mendapat mitra Taman Budaya Surakarta (TBS) yang mensuport hampir keseluruhan keperluan teknis yang dibutuhkan: Pendapa Wisma Seni sebagai venue, Sound System dan lighting berikut semua tim teknisnya, hingga akomodasi, konsumsi, serta publikasinya.

bukan musik biasa

“Bukan Musik Biasa” (BMB) hadir mewadahi komposer-komposer muda dalam kekaryaan baru di dunia musik kontemporer. Sesuai misi visinya BMB bukan hanya media komunikasi antara kreator dan apresiator, melainkan juga ruang untuk melihat potensi tiap individu maupun kelompok dalam mengolah daya cipta. Maka BMB bukan sekedar event musik melainkan juga media diskursus dan dialektika musik tersendiri yang bergelindang di tengah arus indutrialisasi. 

Pada kesempatan ini, akan tampil komposer muda, yaitu Supri & Yogi (Solo), Juan Arminandi (Pontianak), dan Sanggar Kulino Riyot (Solo). Diskusi Budaya juga akan diadakan dengan menghadirkan pembicara Danis Sugiyanto dan Moderator Muhklis Anton Nugroho.
Kegiatan Bukan Musik Biasa edisi ke 69 yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation diselenggarakan pada tanggal 21 Maret 2019, pukul 19.30 WIB, di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Surakarta, Jl. Ir. Sutami 57 Surakarta. 

http://rockerstarfuck.blogspot.com/2016/03/sedikit-deskripsi-tentang-bukan-musik.html

https://www.indonesiakaya.com/agenda-budaya/detail/teater-pandora-mempersembahkan-lakon-suto-mencari-jabatan

Festival Ketoprak Pelajar Klaten 2019

Festival Ketoprak Pelajar Klaten 2019

Festival ketoprak pelajar yang diselenggarakan di Aula SD Krista Gracia merupakan perhelatan ke-X. Festival ketoprak pelajar ini merupakan prakarsa Amigo Peduli Budaya, pada pelaksanaannya bekerja sama dengan Dewan Kesenian, Omah Wayang, dan tentunya pemerintah terkait rutin sejak tahun 2010. Pada tahun 2019 ini diikuti oleh 62 sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK, dengan rincian jumlah FKP tingkat SMA/SMK diselenggarakan 12-15 September, dengan jumlah peserta 24 sekolah tingkat provinsi. FKP tingkat SMP, 27-29 September, diikuti 19 sekolah, dan FKP tingkat SD dijadwalkan 11-13 Oktober dengan peserta 19 sekolah. Edy Sulistyanto (pemrakarsa FKP sekaligus pemilik Amigo Grup) menjelaskan tujuan penyelenggaraan FKP untuk mewujudkan generasi muda cinta budaya, sekaligus sebagai wadah pendidikan budi pekerti, moral, dan karakter siswa.

FKP 2019 ini menjadi spesial karena bertempatan dengan peluncuran buku berjudul Sang Pengerek Tonil karya Sri Warsiti. SMAN I Karanganyar, yang menyajikan cerita Nyi Ageng Karang, juga terpilih sebagai penyaji terbaik I. Kemudian, penyaji terbaik II SMAN 1 Karangnongko dengan lakon Mertobat, dan penyaji terbaik III SMKN 1 Sumber Rembang yang menampilkan cerita Empu Pakuwojo. Sebagai dagelan terbaik I Sawitri dari SMK Kes Rahani Husada, terbaik II Adisaroh (SMAN 1 Wedi) dan terbaik III Kembang Katresnan (SMAN 1 Polanharjo). Pemain putra terbaik I Pringgoloyo (SMAN 1 Karanganyar), terbaik II Empu Pakuwojo (SMKN 1 Sumber Rembang), dan terbaik  III Ki Tambi (SMAN 1 Karangnongko). Adapun penyaji favorit SMAN 1 Karangdowo. Acara ini terselenggara atas dukungan dari pemerintah provinsi, khususnya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang hadir saat penutupan FKP 2019 tingkat SMA/SMK.

Penulis: Djoko Sardjono – 11 September 2019, 08:06 WIB

SUARA MERDEKA SOLO

(14 September 2019)

Published by smscom in SENI BUDAYA2 hari ago

24 Sekolah Ambil Bagian dalam Festival Ketoprak Pelajar SMA X

https://mediaindonesia.com/read/detail/259659-sman-1-karanganyar-juara-i-festival-ketoprak-pelajar-x

Hari Tari Dunia

Hari Tari Dunia

Dalam rangka memeringati Hari Tari Sedunia yang jatuh tiap 29 April, Institut Seni Indonesia Surakarta memprakarsai menari 24 jam sejak tahun 2006. Di tahun 2019, ISI Surakarta kembali menunjukan eksistensinya melalui kegiatan World Dance Day atau Hari Tari Dunia 24 Jam Menari yang ke-13 dengan tema #GegaraMenari “urip mawa urup, urip hanguripi”.

Hari Tari Dunia SOLO

Salah satu pepatah Jawa yang bermakna sangat dalam yaitu, hidup dengan semangat, hidup memberi hidup. Tema ini mencerminkan bahwa dari awal tari telah menjadi entitas yang menyatu dengan kehidupan masyarakat hingga akhirnya tari bisa menghidupi masyarakat, membangun citra bangsa menjadi bangsa yang santun, beradab, mulia dan bermartabat.

Pengambilan tema #GegaraMenari merupakan salah satu srategi untuk menarik minat publik lebih luas melalui sarana media sosial. Acara digelar mulai tanggal 29-30 April 2019 pukul 06.00-06.00 WIB. Kesuksesan perayaan Hari Tari Dunia sebagai upaya mendorong peluang ruang apresiasi berbagai macam bentuk seni yang ada di Indonesia, dari penari usia dini sampai dewasa, tidak menutup kemungkinan untuk penari difable, serta mampu menampilkan kesenian rakyat, kesenian modern sampai kesenian ritual.   

Acara ini juga menunjukkan kesatuan persatuan dari seluruh penjuru daerah Indonesia dan Mancanegara serta antusiasme para Budayawan dan para Empu Tari, pun para difable yang tidak kehilangan semangat juangnya. Dimulai dengan rangkaian pra-event yaitu workshop tari dari 7 Perguruan Tinggi Seni Indonesia dengan tema “Relung, Ranah, dan Ruang”.

Hari Tari Dunia

Tak kurang dari 175 grup tari yang menampilkan sekitar 600 jenis tarian 24 jam nonstop. Selain rangkaian pementasan dari grup tari, seperti tahun sebelumnya ada tarian 24 jam nonstop yang terdiri dari 6 penari (secara individu), masing-masing berasal dari Bali, Kalimantan, dan Jawa. Para penari melakukan seluruh aktivitas selama 24 jam dengan tetap menari.

Penampilan tidak hanya dihiasi oleh penari lokal dan tarian Indonesia, ada beberapa negara yang ikut berkontribusi yaitu Perancis, Philipina, Australia. Beberapa penampilan tari yang disajikan dalam rangkaian 24 jam menari antra lain, Gelar Karya Tari Keraton, Gelar Karya Tari Empu yang dimeriahkan oleh penampilan Empu seperti Wied Senjayani yang dikenal sebagai tokoh penari balet, Wahyu Santoso Prabowo dengan tari Jawa gaya tari alus Surakarta.

Theodora Retno Maruti, pendiri sanggar tari Padnecwara, meskipun telah berdomisili di Jakarta, tetapi tetap mengembangkan tari Jawa klasik menjadi suatu pagelaran yang monumental, dan Frans Jiu Luway yang berasal dari Kalimantan Timur. Kemudian pentas karya Jonet Sri Kuncoro S.Kar,. M.Hum (Dosen Tari ISI Surakarta) yang meneliti dan menciptakan karya tari bersama penari difable se-Karisidenan Surakarta, Sarasehan, pagelaran tari alumni penari 24 jam (tahun 2006-2019), Pagelaran Panggung Bhineka Nusantara 2019, pertunjukan tari dari darmasiswa, pameran foto seni pertunjukan tari, bazar kerajinan dan kuliner, wisata ritual tari, dan orasi budaya.

 https://nationalgeographic.grid.id/read/13298425/sejarah-hari-tari-dunia?page=all

https://www.indonesiakaya.com/agenda-budaya/detail/rayakan-hari-tari-dunia-2019-institut-seni-indonesia-surakarta-gelar-24-jam-menari-ke-13

Hari Wayang Dunia

Hari Wayang Dunia

Sejak 7 November 2003, wayang kulit ditetapkan UNESCO sebagai “Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity”.  Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta bakal mengadakan Hari Wayang Dunia (HWD).

Hari Wayang Dunia

Dalam rangka memperingati Hari Wayang Dunia, sejak 2015 Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Jurusan Pedalangan khususnya, menggelar pertunjukan wayang. Pada tahun 2018 disajikan pentas maraton selama 4 hari, mulai 6-9 Nopember 2018. Ada 37 pertunjukan wayang berbagai jenis, dengan melibatkan 38 dalang, tiga diantaranya dalang cilik.

Pembukaan dilaksanakan Selasa (6/11) malam oleh Direktur Kesenian Kemdikbud RI, Dr. Restu Gunawan, didampingi REKTOR ISI Surakarta Dr.  Guntur M.Hum, di Pendapa Ageng Joyokusumo Kampus ISI Surakarta.
Hari pertama disebut malem midodareni menyajikan pertunjukan Wayang Kulit Ruwatan Sukerta oleh Ki Manteb Sudarsono dengan lakon Murwakala. Kemudian dilanjutkan pementasan wayang secara berurutan.

Hari Wayang Dunia SOLO

Adapun jenis wayang yang ijut memeriahkan rangkaian Hari Wayang Dunia yaitu Wayang Kulit, Wayang Orang, Wayang Purwo Gaya Surakarta, Wayang Purwo Gaya Jogjakarta, Wayang Purwo Gaya Jawa Timuran, Wayang Banjar, Wayang Jawa Timuran, Wayang Dupara, Wayang Parwa Bali, Wayang Golek, Wayang Kancil, Wayang Santri, Wayang Wahyu, Wayang Perjuangan, Wayang Krucil, Wayang Kolaborasi, dan Wayang Nebus Kembar Mayang. Salah satu yang menarik hadir tiga dalang cilik yang ikut tampil, yakni Alatarik Mu’amar Zidan Alfaro, Dimas Wijayasena dan Galar Pamayang. Sedangkan untuk venue yang digunakan untuk pertunjukan wayang menggunakan Pendapa Ageng Joyokusumo dan Teater Besar Gendon Humardani.
Menurut Rektor ISI Surkarta dalam sambutan membuka HWD ke-4, kegiatan ini dapat digunakan untuk menambah cakrawala tentang kebhinekaan wayang di Indonesia, juga untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat terutama generasi muda tentang pentingnya nilai nilai kehidupan yang tersirat di dalam seni pewayangan.


Dalam rangkaian peringatan Hari Wayang Dunia, ISI juga menggelar berbagai kegiatan, antara lain lomba menggambar wayang, ruwatan masal, pameran seni rupa, pameran wayang-wayang lawas, dan buku-buku wayang. Terakhir, acara ditutup dengan orasi budaya oleh H. Mohammad Syakirun alias Cak Kirun dan pertunjukan wayang kaloborasi oleh dalang Ki Begug Purnomosidhi.

http://soloevent.id/hari-wayang-dunia-2018-bakal-dimeriahkan-5-kegiatan-ini/

http://www.rmoljateng.com/read/2018/11/07/13702/Hari-Wayang-Dunia,-ISI-Gelar-37-Pertunjukan-Dengan-38-Dalang-

SIPA (Solo International Performing Arts)

SIPA (Solo International Performing Arts)

Arts As A Social Action menjadi tema SIPA 2019 hendak mengajak masyarakat Indonesia untuk peka terhadap isu sosial di lingkungan sekitarnya dan sekaligus ingin menunjukkan bahwa seni dapat digunakan sebagai medium dalam melakukan aksi sosial. Humas SIPA 2019 Iqbal menambahkan di tahun ke-11 ini SIPA mengusung tema Arts As A Sosial Action.

RANGKAIAN ACARA SIPA

Tema tersebut dipilih karena seni pertunjukan yang disajikan di panggung SIPA tak hanya untuk dinikmati. Tetapi juga menyampaikan isu-isu krusial dalam kehidupan sosial. Dimulai tanggal 5-7 September 2019 mulai pukul 19.00 WIB, bertempat di Benteng Vastenburg, Solo, panitia memilih Elizabeth Sudira (pembawa acara (master of ceremony) sekaligus penyanyi)

sebagai maskot Solo International Performing Arts (SIPA) 2019. SIPA menjadi ajang berkumpulnya para seniman dalam menampilkan gagasan, karya, hingga terobosan baru dari masing-masing penampil. Dari akun Instagram @sipafestival, Selasa (3/9/2019), seniman dari Indonesia yang akan tampil antara lain De Tradisi (dari Medan), Fierart Dance Group (Bandung), Labor Seni Terasuru (Aceh), Malay Dans Studio (Riau), Mila Art Dance (Yogyakarta), Folakatu Art Tidore (Tidore), Kemlaka Sound of Archipelago (Solo), Duta Seni KS (Banten), Abib Igal Dance Project (Yogyakarta), dan Aceh Performance Art (Aceh).

Sedangkan musisi dari Asia yang akan tampil di SIPA 2019 antara lain; Hi Mask

Jemek Supardi

Jemek Supardi

Jemek Supardi

Jemek Supardi lahir di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 14 Maret 1953 (umur 66 tahun) adalah seniman teater berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal sebagai penampil pantomim yang menyuarakan ketimpangan sosial masyarakat.

Ia telah menghasilkan banyak karya di berbagai medium pertunjukan antara lain di panggung pertunjukan, pasar, jalan, sampai kuburan

Ery Mefri

Ery Mefri

Ery Mefri

Ery Mefri (lahir di Saningbakar, Solok, Sumatra Barat, 23 Juni 1958; umur 61 tahun) adalah seorang koreografer tari asal Indonesia. Ia merupakan pimpinan kelompok tari Nan Jombang Dance Company. Dalam berkarya, ia banyak mengolah unsur-unsur tari tradisional Minangkabau. Ery merupakan anak tunggal dari pasangan Jamin Manti Jo Sutan dan Nurjanah asal Minangkabau.

Ia mengawali kariernya bersama Grup Gumarang Sakti pimpinan Gusmiati Suid. Ia dikenal sebagai koreografer yang suka melakukan pencarian ekspresi baru dalam setiap karyanya. Salah satu ciri khas yang muncul dalam setiap pementasan karyanya adalah tidak menggunakan iringan musik atau instrumen khusus. Para penari sendirilah yang menciptakan musik melalui nyanyian, tepukan tangan, pukulan ke anggota tubuh, atau tabuhan pada kain celana galembong.

Berkat ketekunannya dalam mengkreasikan tari Minang kontemporer, Ery Mefri sudah beberapa kali tampil di festival tari dunia, antara lain di Singapura, Essen, Mülheim an der Ruhr, Tokyo, Berlin, dan London.

Rahayu Supanggah

Rahayu Supanggah

Rahayu Supanggah

Lahir di Boyolali, 28 April 1949, Rahayu Supanggah adalah seorang komponis dari Indonesia yang khususnya berkarya untuk menyusun musik tradisional Jawa. Ia telah membawa musik gamelan pentas ke  lebih dari 40 negara sekaligus mengajarkannya ke hampir semua negara yang pernah ia kunjungi. Ia juga banyak melakukan kolaborasi dengan seniman dunia, mulai musisi, desainer, skenografer (peñata panggung), koreografer, dalang hingga sutradara film. Lebih dari itu, dialah yang mengenalkan sekaligus mengangkat musik tradisional gamelan ke dunia internasional, lebih dari 30 tahun lalu.

Dia telah mencipta lebih dari 100 buah karya, dikenal sebagian besar untuk perannya dalam kerjasama internasional “Realizing Rama” dan menyusun skor musik untuk pentas musik “I La Galigo” (kisah epik masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan) arahan sutradara Robert Wilson asal Amerika Serikat.

Komposisi musiknya untuk Opera Jawa (2006) arahan sutradara Garin Nugroho asal Indonesia memenangkan penghargaan Best Composer dalam Asian Film Award tahun 2007.

Suprapto Suryodarmo

Suprapto Suryodarmo

Suprapto Suryodarmo

Mbah Prapto –panggilan akrab Suprapto– lahir 72 tahun yang lalu di Kampung Kemlayan, Kota Surakarta. Sejak kanak-kanak pria ini telah mengenal gerak, mulai tari klasik Jawa, silat hingga kungfu. Kiprah keseniannya diawali tahun 1966, ketika ia mendirikan grup Barada (binaraga budaya).

Di tempat itu, ia melatih tari dan beladiri. Pada era tahun 1974-1975, ia menciptakan Wayang Budha yang menjadi pembicaraan banyak kalangan. Wayang Budha adalah pementasan wayang gaya baru yang menggabungkan seni rupa, musik dan dunia pewayangan. Pentasnya ke Jerman (bersama koreografer Sardono W Kusuma) dalam Festival Pantomim Internasional tahun 1982 mempertemukannya dengan orang-orang yang memiliki pendekatan gerak bebas, sama dengan dirinya.

Setiap tahun sejak lawatannya yang pertama itu, Mbah Prapto terus-menerus diundang untuk memberikan workshop dan mementaskan jogetnya di Eropa, Australia, Filipina, Korea, Jepang dan Amerika Serikat. Ketika jaringannya mulai tersebar di banyak negara, tahun 1986 ia mendirikan Padepokan Lemah Putih, sebuah wadah untuk menampung murid-muridnya. Di padepokan itulah kemudian lahir komunitas Sharing Movemen. Istilah ini untuk menyebut teknik mengajar Mbah Prapto yang lebih banyak sharing.

Eko Pece

Eko Pece

Eko Pece

Eko Pece (48 tahun) yang memiliki nama asli Eko Supriyanto lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 26 November 1970 adalah penari, koreografer, dan dosen berkebangsaan Indonesia. Namanya mulai dikenal secara internasional saat ditunjuk oleh penyanyi Madonna untuk menjadi penata tari untuk 268 kali konsernya di berbagai negara.

Pertunjukan Lion King di Teater Broadway New York, Amerika Serikat juga tak lepas dari sentuhan karyanya. Eko juga terlibat sebagai penata tari untuk ajang Miss World yang diselenggarakan di Bali (2013) dan Asian Games 2018 yang digelar di Jakarta/Palembang